catatan Bungben tentang sosial, politik, manajemen, marketing praktis, marketing amal shaleh, dan strategi bisnis
Kamis, 18 September 2014
Koalisi Orang Baik
Hadoh jatuhlah derajat istilah koalisi saat itu, hehee.
Paska mahasiswa, saya pulang ke kampung halaman, lalu terlibat eksperiment politik dengan para elit dalam pemilihan Gubernur Kalbar. Saat itu istilah koalisi akrab terdengar lagi. Kali ini istilah koalisi berada salam martabat sebenarnya. Karena saat itu pemilihan Gubernur dilakukan oleh DPRD, maka koalisi dilakukan antar fraksi. Lalu saya mengenal istilah koalisi parati islam, koalisi partai nasionalis, koalisi poros tengah, koalisi poros tikus, dsb.
Koalisi-koalisi itu adalah sebuah bentuk kerjasama dengan kepentingan politik praktis yang sangat pragmatis, yaitu hanya dalam rangka untuk menggolkan kandidat sebagai calon gubernur. Ketika sang calon terpilih, tak ada lagi istilah koalisi.
Oleh karena itu sebenarnya saya sangat benci dengan istilah koalisi. Walaupun demikian istilah koalisi tetap saya gunakan untuk membangun jaringan sosial.
Jaringanpun dapat terbangun dalam waktu cepat. Mulai dari jaringan seniman, budayawan, pedagang kaki lima, preman pasar, perguruan silat, organisasi mahasiswa, sampai organisasi sosial kemasyarakatan.
Nampaknya besar...namun ternyata dalam waktu singkat jaringan sebesar itu tak dapat bertahan lama dalam sebuah koridor gerakan bersama yang berkepanjangan. Mengapa? Ya karena persoalan koalisi itu. Ternyata koalisi itu punya tradisi menampikan asas niat baik, dan moralitas. Yang penting bisa saling mendukung masing-masing agenda, ya udah ayo sama-sama. Tak heran dalam perjalannya banyak kerjasama bubar karena perilaku person-person yang tak berniat baik dan tak bermoral baik. Artinya hanya gara-gara perilaku satu orang sebuah agenda baik bisa terkatung katung dalam sebuah meja diskusi tanpa aksi.
Pendek cerita saya mulai enggan membangun jaringan koalisi lagi. Males! Karena memang sedikit manfaatnya buat kemajuan amal baik.
Hampir 3 tahun diam membisu.sibuk bergulat dalam interaksi 4 komponen, mouse, keyboard, monitor dan internet. Namun kerinduan bersosialisasi muncul kembali. Harus ada yang diperbuat untuk sesama dan bersama-sama. Tapi apakah harus menggunakan istilah koalisi lagi? Ah benci kali aku dengan istilah itu.
Tapi tak ada istilah yang lebih akrab dari istilah itu pula...
Tak apalah...kali ini saya kasi ekstensi dibelakang kata koalisi itu dengan kata 'orang baik'. Sehingga istilahnya sekarang adalah koalisi orang baik.
Namun dimanakah orang baik itu berada? Bukankah sudah tak ada lagi orang baik disekitar saya? Tapi tak mungkin....
Sabtu, 06 September 2014
Marketing Amal Shaleh
Kamis, 31 Juli 2014
Bekasi food city
Bekasi food city adalah sebuah foodcourt berkonsep outdoor yang berada dalam komplek summarecon city bekasi. Foodcourt ini menyajikan 2 jenis makanan di tempat yang terpisah yaitu makanan luar negeri dan makan dalam negeri. Masing-masing tempat dilengkapi dengan panggung hiburan dengan lebar kira-kira 20 meter.
Bersama keluarga kami makan di blok makanan luar negeri. Di blok ini aneka makanan asli Indonesia disajikan lengkap dengan gerobak khasnya seperti yang sering kita temui di tepi-tepi jalan kaki lima. Yang menarik setiap gerobak penjual dilengkapi dengan mesin cashier yang canggih dengan sistem pembayaran menggunakan kartu magnetik. Sebelum makan kita harus mengisi kartu magnetik itu dengan sejumlah uang di cashier. Setelah terisi barulah kita bisa membeli aneka makanan di blok itu sebanyak uang yang kita isi. Para penjual tradisional itu akan meletakan karu kita diatas alat yang secara otomatis akan mengurangi saldo kita sesuai jumlah tagihan.
Canggih juga. Ternyata ada pengembang yang tak hanya peduli dengan pedagang tradisional tapi juga mau mentransformasikan teknologi informasi yang mutakhir pada mereka. Sumarecon, hebat!
Senin, 28 Juli 2014
Dahsyatnya Sistem Ekonomi Islam III
Tarif pajak dapat menjadi instrumen yang efektif pula untuk mengatur aktivitas ekonomi masyarakat dan penyerapan tenaga kerja. Pajak tersebut dikenakan pada pendapatan masyarakat, penjualan, dan barang-barang yang diproduksi dan atau diperdagangkan masyarakat. Pembebanan pajak pada gaji masyarakat misalnya akan mengurangi hasrat masyarakat membeli barang, sehingga dapat mengurangi laju inflasi. Hasil pajak yang ditarik digunakan pemerintah untuk berbagai keperluan seperti meningkatkan pengeluaran pemerintah, menyelenggarakn program jaminan sosial, atau peningkatan kualitas pelayanan publik.
Demikian pula pajak yang dibebankan pada hasil produksi dan barang dagangan di masyarakat semuanya punya pengaruh yang besar terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, tingkat konsumsi dan tingkat pengangguran.
Negara-negara kapitalis liberal seperti amerika serikat mengendalikan polik dalam negerinya melalui dua instrument tersebut. Negara tak boleh ikut-ikutan bisnis seperti mendirikan bumn, atau melakukan aktivitas jual beli. Semua mekanisme diserahkan pada pasar. Sehingga jangan harap negara-negara itu melakukan operasi pasar menjual sembako dengan harga murah saat ada gejala inflasi. Jangan harap pula pemerintah mau membeli produk petani untuk mempertahankan harga jual yang layak saat petani mengalami surplus produksi. Semua diserahkan pada mekanisme pasar yang tunduk dengan hukum supply and demand.
Kelemahan ini dijawab secara dialektis oleh ekonom beraliran komunis. Para ekonom komunis beranggapan akan sangat berbahaya apabila negara hanya bisa mengendalikan ekonomi melalui suku bunga dan tarif pajak saja sementara masyarakat dibiarkan bebas bertransaksi sesuai dengan mekanisme pasar. Negara harus memiliki otoritas yang lebih besar dalam mengendalikan perekonomian masyarakat. Negara harus memiliki kekuatan penuh untuk mengintervensi aktivitas ekonomi masyarakat.termasuk memproduksi, menjual dan mendistribusikan barang dan jasa.
Sementara masyarakat hanya boleh berekonomi secara terbatas.
Diatas kertas konsep itu bagus karena tak ada lagi pabrik yang memberlakukan buruh semau hati.buruh tidak lagi bekerja pada majikan akan tetapi bekerja untuk dirinya sendiri dan untuk negara. Namun kenyataan dilapangan berkata lain. Negara justru tak memiliki kemampuan yang baik dalam mengurus distribusi kebutuhan hidup bagi seluruh masyarakat.akhirnya hanya rakyat yang dekat dalam jangkauan pelayanan saja yang mampu disejahterakan. Sementara yang berada jauh dari pusat kekuasaan harus tetap hidup dalam jeratan kemiskinan
Bersambung...
Dahsyatnya Sistem Ekonomi Islam II
Tujuan utama menaikan sukubunga adalah untuk mendorong minat masyarakat menyimpan uangnya di bank. Makin tinggi suku bunga makin besar minat masyarakat menyimpan uang di bank. Tingkat konsumsi masyarakatpun turun, demikian pula uang yang beredar akan semakin berkurang. Harga barang dan jasa akhirnya turun. Terjadilah deflasi.
Tingkat suku bunga yang tinggi berdampak pada menurunya tingkat ivestasi masyarakat. Para pengusaha enggan berinvestasi atau mengembangkan usaha.harga barang yang turun memperburuk minat pengusaha untuk berbisnis. Tak ada pabrik baru, komoditas perdagangan tak menguntungkan untuk diperdagangkan akibatnya tenaga kerja tak terserap, pengangguran meningkat, kesejahteraan masyarakat menurun.
Mungkin muncul pertanyaan, apa kepentingan negara untuk menyerap pengangguran?
Pengangguran yang tinggi akan mengakibatkan distabilitas politik yang mengancam kesinambungan kekuasaan politik. Akan terjadi banyak persoalan ketika rakyat tak bekerja dan tak mampu memenuhi kebutuhanya. Kriminalitas, kerusuhan, protes hingga suburnya gerakan oposisi. Oleh karena itu tingkat pengangguran selalu menjadi issue sensitif bagi otoritas politik.
Lalu bagaimana upaya yang harus dilakukan agar tingkat suku bunga dalam posisi yang pas? Ada banyak cara selain dengan melakukan pengawasan terhadap gejala aksi ekonomi masyarakat, otoritas politik di negara-negara kapitalis juga menggunakan instrument lain yang cukup ampuh yaitu kebijakan tarif pajak. Bagaimana caranya?
Bersambung...
Dahsyatnya Sistem Ekonomi Islam I
Oleh: bungben. Pengurus Pondok Modern Munzalan Ashabul Yamin Pontianak.
Mukaddimah
Sewaktu masih kuliah di jogja tahun 90an saya mempelajari berbagai sistem ekonomi dunia.dari sistem kapitalisme liberal, sistem ekonomi sosialis, sistem ekonomi komunis dan terakhir sistem ekonomi kapitalis komunal.
Walaupun tidak tuntas mempelajari seluruh sistem ekonomi tersebut namun saya dapat menarik kesimpulah bahwa seluruh sistem ekonomi yang dirumuskan oleh para ideolognya itu memiliki tujuan yang sama yaitu tentang bagaimana cara negara meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan produktivitas masyarakat. Tujuanya adalah terbukanya lapangan pekerjaan, terserapnya angkatan kerja dan terjadinya surplus terhadab barang dan jasa sehingga bisa di jual ke negara lain dimana hasil penjualan itu digunakan untuk membeli aneka kebutuhan barang dan jasa yang tak dapat diproduksi di dalam negeri.
Untuk mencapai tujuan tersebut para ekonom merumuskan cara agar negara dapat melakukan pengaturan.
Pada negara kapitalis liberal yang menyerahkan semua proses pemenuhah barang dan jasa oleh swasta dan mengharamkan campur tangan negara terhadap proses tersebut, negara menggunakan 2 instrument yang sangat efektif yaitu tingkat suku bunga dan tarif pajak. Dua instrument itulah yang digunakan untuk mengendalikan pengangguran dan inflasi. Inflasi adalah penyebab utama menurunnyat daya beli masyarakat yang oleh karenanya akan berpengaruh sistemik pada tingkat kesejahteran masyarakat, gairah investasi, dsb.
Secara sederhana penerapan 2 instrument tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Negara akan membuat tingkat suku bunga yang serendah rendahnya untuk memacu gairah masyarakat berinvestasi/ mengembangkan bisnis. Ketika investasi masyarakat meningkat maka akan terbukalah pabrik pabrik industri, aktivitas perdagangan dan jasa. Hal itu berarti akan terseraplah tenaga kerja. Rakyat bekerja dan dapat uang lalu uang itu mereka gunakan untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan. Terpenuhinya kebutuhan rakyat berarti tercapainya kesejahteraan mereka.
Namun, tingkat bunga yang rendah memunculkan banyak masalah. Maryarakat jadi enggan menabung di bank. Mereka lebih memilih untuk membeli aneka barang ketimbang menyimpan uang di bank.masyarakat menjadi sangat konsumtif. Akibatnya uang yang beredar di masyarakat semakin banyak, harga barang semakin naik dari waktu ke waktu, nilai uang semakin turun, daya beli masyarakat juga akan turun. Kondisi itu adalah pertanda terjadinya inflasi yang menjadi musuh negara. Inflasi mengakibatkan masyarakat tak mampu membeli aneka barang untuk memenuhi kebutuhan mereka.kesejahteraan masyarakatpun turun. Untuk memecahkan masalah tersebut solusinya adalah menaikan tingkat suku bunga.
Bersambung.....
Minggu, 27 Juli 2014
Keunggulan Sistem Pendidikan Pondok Modern Darussalam, Gontor
ORANG JAWA LEBIH JAGO BERPOLITIK
Iseng-iseng otak-atik angka durasi umur negeri-negeri di Pulau Jawa. Kesimpulannya orang Jawa itu lebih jago berpolitik daripada orang ...
-
Saya mengenal Pak Asui saat mengalami sakit migrain yang parah sekitar 9 tahun yang lalu. Saat itu entah berapa belas kali saya ke dokter...
-
Bagian II dari 4 tulisan Karena aktivitas internal kemahasiswaan sudah dilaksanakan oleh BEM maka otomatis Senat Mahasiswa KBM-UJB ta...
-
Bagian I dari 4 Tulisan Saya masuk di Fakultas Ekonomi Universitas Janabadra pada tahun 1993. Tak ada pertimbangan khusus untuk mem...

