Tampilkan postingan dengan label Beni Sulastiyo aktivis 98 yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beni Sulastiyo aktivis 98 yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Desember 2016

SEJARAH GERAKAN MAHASISWA 98 DALAM PERSPEKTIF KAMPUS

d

Sebagian besar kawan-kawan aktivis gerakan 98 itu tidak memiliki jiwa romantis. Tak heran jika digoogling, sangat jarang ditemukan tulisan tentang gerakan 98 yang berasal dari pelaku gerakan itu sendiri. Padahal saya tahu persis sebagian besar dari mereka sangatlah jago menguntai kata lewat tulisan.
Demikian juga saya. Baru kali ini saya menulis tentang tema gerakan mahasiswa dengan latar tahun 98. Dan sungguh tema ini begitu menyulitkan, hahaa.
Saya sungguh harus bersusah payah merayapi memori yang telah terpendam selama 18 tahun lamanya. saya juga harus bersusah payah untuk mengalahkan jiwa ketidakromantisan saya agar bisa mengingat-ngingat kejadian masa lalu.
Dan alhamdulillah, akhirnya saya berhasil menuliskan sebagian kecil dinamika mahasiswa yang terjadi pada tahun 90an.
Tujuan saya menulis tentang sejarah gerakan 98 dalam perspektif 'kekampusan' ini,  semata-mata untuk menyemangati gerakan mahasiswa di almamater saya yang menurut beberapa kawan sedang mati suri.
Oya tulisan ini sangatlah bernuansa kekampusan. Karena memang ditujukan untuk menyemangati mahasiswa di Kampus saya, Universitas Janabadra Yogyakarta.
Kampus ini bukanlah kampus yang trendy, bukan pula kampus yang kesohor dan memiliki cabang dimana-mana. Universitas Janabadra satu-satunya ya hanya di Yogyakarta. Di Kota pelajar inipun kampus saya ini tidaklah terbilang kampus yang ngetop. UJB hanyalah kampus yang biasa-biasa saja. Bahkan terbilang sangat sederhana.
Namun dibalik kesederhanannya itulah saya tak bisa melupakan kampus ini. Karena dikampus inilah kami pernah mengobarkan perlawanan terhadap kaki tangan penguasa yang menggerogoti kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui tulisan yang saya bagi dalam 4 tulisan ini saya berharap semoga perlawanan-perlawanan atas ketidakadilan penguasa terhadap rakyat dapat kembali dikobar-kobarkan oleh kawan-kawan mahasiswa.
Jujurlah wahai pemuda, bukankah kita semua rindu dengan teriakan-teriakan perlawanan? Jujurlah wahai pemuda...bukankah kita semua tahu telah terjadi ketidakberesan dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara?
Ayo bergerak kemballi kawan. Jelaskan kepada rakyat ada begitu banyak ketidakberesen yang terjadi di negeri ini, untuk rakyat, demi masa depan generasi nusantara....

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BERIKUT TULISANNYA. AGAK PANJANG, MAKA SAYA SPLIT DALAM 4 BAGIAN. DISUSUN DENGAN BELASAN BATANG ROKOK DAN BEBERAPA GELAS KOPI, SILAHKAN DINIKMATI...

  1. MENGINTIP GERAKAN MAHASISWA UJB TAHUN 90-AN: AKTIVIS KAMPUS VS AKTIVIS JALANAN
  2. MENGINTIP GERAKAN MAHASISWA UJB TAHUN 90-AN: KBM UJB DAN GERAKAN MAHASISWA JOGJA
  3. MENGINTIP GERAKAN MAHASISWA UJB TAHUN 90-AN: KBM-UJB DAN AKSI 20 MEI 1998
  4. MENGINTIP GERAKAN MAHASISWA UJB TAHUN 90-AN: GERAKAN RAKYAT YOGYAKARTA 

Selasa, 27 Desember 2016

MENGINTIP GERAKAN MAHASISWA UJB TAHUN 90-AN: GERAKAN RAKYAT YOGYAKARTA

Bagian IV dari 4 tulisan (Habis)

Setelah lengsernya Soeharto. Kegiatan Senat Mahasiwsa mengalami anti klimaks. Kami hanya nongkrong di kampus. Ada perasaan yang hambar menyelimuti jiwa kita saat itu. Mengapa Soeharto terlalu cepat turun.

Namun demikian, ada juga perasan gembira karena tuntutan mahasiswa dan seluruh rakyat telah mencapai tujuannya.

Setelah beberapa bulan lengsernya Soeharto, terjadi pergolakan politik di Jakarta. Habibie yang saat itu menggantikan Soeharto dianggap sebagai bagian antek-antek ORBA. Mahasiswa di Jakarta saat itu kemabali menggelar aksi demonstrasi menuntut Habibie mundur pula dari tampuk kekuasannya. Sementara itu aktivis mahasiswa di Yogyakarta lebih memilih calling down.

Di KBM UJB misalnya cenederung berpikir untuk segera melakukan kaderisasi. Lalu disusunlah rencana untuk melakukan kaderisasi. Kurikulum kaderisasipun dirumuskan. Pintu masuk kaderiasi adalah OSPEK. Namun karena penuh dengan nuansa eksploitatif, SM UJB lalu memutuskan untuk menghapus OSPEK. Kegiatan itu diganti dengan istilah baru. Saya lupa namanya. Yang jelas isi dari kegiatan itu jauh dari upaya untuk membully mahasiswa baru. Kegiatan itu didominasi oleh aktivitas diskusi dan aksi demonstrasi.

Mereka yang menonjol kemudian di dekati lalu diajak diskusi. Setelah itu diikutkan dalam berbagai kegiatan di kampus dan ekstra kampus. Beberapa orang diantaranya difasilitasi tempat kontrakan namanya Roemah Pemoeda. Di tempat itulah pertukaran gagasan dan pengembangan semangat pergerakan ditanamkan. Di kampus dilakukan juga proses pengkaderan formal. Kurikulum lebih dominan pengembangan mental pergerakan serta intelektual. 
beberapa aktivis yang ketangkap kamera saat menghadiri saya wisuda akhir 99

Proses pengkaderan hybrid tersebut ternyata menghasilkan aktivis-aktivis mahasiswa yang cemerlang. Tokoh-tokoh yang masih saya ingat adalah Resha Sasongko, Jemmy Setiawan, Roni Sumbayak, Aris Sustiyono, Mujib, Imam Setiyadi, Daniel F Lolo, Bonek, Frans, Amalaul Mahdi dan aktivis perempuan di kampus UJB yang juga bisa mewarnai gerakan mahasiswa jogja saat itu. Ada beberapa orang yang saya masih ingat seperti Rina, Tanti, Tabitha, Elsa, Putri, dsb.  

Aktivitas kemahasiswaan dan pergerakan mahasiswa di UJB tetap gayeng ditangan para aktivis baru yang tak kalah militan, cerdas dan berdaya komunikasi cemerlang itu
Mereka adalah aktivis yang unik. Mereka tak hanya aktif di kampus sebagai pengurus dibeberapa organisasi kemahasiswaan internal kampus. Namun juga intensif membangun aliansi dengan organisasi-orgnaisasi kemahasiswaan di luar UJB. Peran mereka sangatlah signifikan. Beberapa aksi besar yang melibatkan peserta aksi lintas kampus adalah hasil dari kerja-kerja pergerakan mereka.

Nah ditengah sepinya pergerakan dan fokusnya temen-temen melakukan kaderisasi di KBM UJB, sedang terjadi polemik kepemimpinan daerah di Provinsi Yogyakarta. Masyarakat DIY, khususya anggota DPRD Provinsi kebingungan bersikap setelah mangkatnya Sri Paduka Paku Alam VII.

Sri Paduka PA VIII semula menjabat Wakil Gubernur DIY mendampingi Sultan Hamnegkubwono IX.  Pada tahun 1988 Sultan HB X wafat. Maka jabatan Gubernur dirangkap oleh Sri Paduka Paku Alam VIII. Jabatan itu ia emban tanpa Wakil Gubernur.
Lalu pada akhir 1998 tepatnya tanggal 11 September, Sri Paduka Paku Alam VIII wafat. PRovinsi DIY mengalami kekosongan kepala pemerintahan.

Situasi ini membuat DPRD DIY kebingungan mengambil sikap. Penetapan HB IX dan Sri Paduka PA VII sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY berdasarkan UU No. 5/ 1974. Dalam UU itu hanya diatur bahwa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY adalah HB IX dan Sri Paduka PA VII. UU itu tidak mengatur suksesi kepemimpinan setelah HBX IX dan SPPA VIII. Berbagai wacana tentang metode pemilihan Gubernur DIY pun bergulir. 

Beberapa anggota DPRD Provinsi meminta agar DPRD DIY segera menetapkan dan melantik HB X sebagai Gubernur DIY. Sebagian yang lain menolak ide tersebut. Gubernur DIY harus dipilih melalui voting oleh anggota DPRD sebagaimana provinsi-provinsi lainnya.
Polemik tersebut memancing friksi dikalangan masyarakat. Namun aspirasi masyarakat Yogyakarta sebagaina besar menginginkan agar DPRD Provinsi menetapkan HB X sebagai Gubernur. Tanpa melalui pemilihan. DPRD Provinsi menolak karena hal tersebut tak memiliki dasar legalitas yang jelas. Lalu terjadi protes dari masyarakat.

Eko Prastowo mengajak saya untuk mendiskusikan persoalan itu untuk menentukan sikap serta mempertimbangkan kontribusi apa yang bisa diberikan dalam polemik tersebut. Saya pribadi berpikiran bahwa persoalan itu adalah persoalan politis yang tak baik dicampuri oleh gerakan mahasiswa. Namun, sebagai kawan saya siap membantu apabila sebagai warga asli Yogyakarta, ia ingin melibatkan diri dalam gejolak itu.

Maka sayapun membantu EP untuk mengorganisir masyarakat Yogyakarta agar menolak pemilihan Gubernur oleh Anggota DPRD Provinsi DIY.  Dibantu oleh beberapa aktivis UJB lainnya kami menginventarisir elemen-elemen masyarakat yang menginginkan HB X ditetapkan sebagai Gubernur DIY.

Singkat cerita seluruh elemen itu disatukan lalu diberinama baru, kalau tak salah namanya Gerakan Rakyat Yogyakarta (GRY). Lewat aneka pertemuan yang dipimpin oleh bung EP, seluruh elemen masyarakat tersebut sepakat untuk menduduki DPRD DIY sampai DPRD DIY mengakomodir aspirasi mereka.

Maka terjadilah aksi pendudukan Ruang Sidang DPRD DIY oleh ratusan masyarakat. Mereka betul-betul dari masyaraka lapis bawah. Ada yang berasal dari paguyuban tukang becak, pedagang kaki lima, pedagang pasar tradisional, tukang parkir, bahkan preman-preman kelas bromocorah.

Saya membantu bung EP untuk mengurus kebutuhan logistik mereka. Mencari bantuan untuk nasi bungkus, menyiapkan minuman dsb. Saya juga turut serta menemani bung EP dalam setiap diksusi yang diselenggarakan. Merumuskan hasil diskusi hingga membuat statement untuk dirilis di media massa.

Beberapa orang bahkan saya bantu untuk mencarikan pekerjaan. Salah satu orang yang saya bantu kemudian membawa lari motor saya. Hahaa…luar biasa juga pergulatan membela RAKJAT saat itu.

Walaupun demikian aksi pendudukan dalam waktu sekitar satu bulan itu, membuat DPRD DIY melunak. Akhirya DPRD Provinsi DIY melakukan Sidang lalu secara aklamasi menetapkan HB X sebagai Gubernur DIY. Massa bersorak gembira. Sementara saya sibuk mencari orang yang telah melarikan motor saya.

Setelah Kasi pendudukan DPRD DIY itu, saya semakin intensif menyelesaikan skripsi saya. Tak sampai satu bulan skripsi selesai. Akhir tahun 1999 saya berazam untuk menyelesaikan studi saya yang sudah sangat telat. Masak kuliah S1 sampai 7 tahun. Gendeng.

Di sela-sela penantian wisuda saya mengurus bisnis dan sesekali mengikuti diskusi dengan teman-teman aktivis di UJB dan aktivis pergerakan di P3Y. Proses pengembangan dunia pergerakan di UJB jarang saya ikuti. Sudah semankin banyak aktivis mahasiswa yang berhasl direkrut menjadi aktivis pergerakan saat itu. Yang masih intens ngelonin para aktivis baru itu adalah Bung EP serta aktivis mahasiswa angkatan 96/97. Di Fakultas Hukum muncul tokoh-tokoh pergerakan baru yang cerdas dan progressif. Ada Jimmy Setiawan (’96) dan Resha Sasangko (97). Lalu seangkatan dengan Resha ada Elsa, Tabitha, Bonek, Putri, Nur Ahmad, dsb. Di Fakultas Ekonomi ada Roni Sumbayak, Anggoro (Kaslog), Mudjib, Hardjono, Aris Sustiyono, Imam Setyadi, Opal, Tanti, Gombloh, dsb.

Ditangan mereka dinamika pergerakan mahsiswa dan aktivitas kemahasiswaan di kampus tak kalah maraknya. Ada dua kejadian besar sebelum saya meninggalkan Kota Jogja pada tahun 2000. Pertama terjadi tawuran antar kampus antara UJB melawan UII yang terjadi pada bulan oktober 1998. Lalu aksi kekerasan yang menimpa peserta aksi dari mahasiswa UJB, IAIN dan beberapa kampus lain yang dilakukan oleh Gerakan Pemuda Ka’bah. Kedua peristiwa itu lain waktu akan saya paparkan.


Sekarang udahan dulu yak. Oya sebelum menutup tulisan ini saya mohon maaf jika ada informasi dan data yang tidak lengkap. Terus terang saya begitu kesulitan untuk merayapi memori masa lalu. Mahasiswa 90an seperti saya juga terdidik menjadi mahasiswa yang tak romantis. Makanya tak pernah menulis buku harian seperti aktivis 66 atau anak-anak ABG. 

Namun, setelah mempertimbangan kebaikan untuk sesama (heheee), sayapun memaksa diri untuk bersikap romantis-romantis sitek. Dan upaya romantika yang hanya mengandalkan memori terbatas ini sungguh membuat saya tersiksa. Hahaaa. 

Jayalah mahasiswa! Untuk negerimu, demi bangsamu!


Beni Sulastiyo, 
Pontianak, 27 Desember 2016

MENGINTIP GERAKAN MAHASISWA UJB TAHUN 90-AN: KBM UJB DAN GERAKAN MAHASISWA JOGJA

Bagian II dari 4 tulisan

Karena aktivitas internal kemahasiswaan sudah dilaksanakan oleh BEM maka otomatis Senat Mahasiswa KBM-UJB tak memiliki ruang aktivitas di internal. SM-KBM UJB akhirnya memiliih untuk beraktivitas di luar kampus.

Pertengahan tahun 1997 gerakan mahasiswa yang mengusung issue anti Orde Baru semakin kencang. Issue yang awalnya digulirkan oleh aktivis jalanan, saat itu mulai merasuk hingga ke organisasi formal kampus. Demikain pula dengan organisasi-organisasi mahasiswa ekstra kampus seperti organisasi mahasiswa yang berada dalam kelompok Cipayung. Walaupun masih belum terlalu berani menyuarakan anti orde baru, suara-suara kritis pun mulai terdengar di organisasi itu. Diantara beberapa organisasi kelompok Cipayung, Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tampak lebih progressif dibandingkan dengan organ-organ lain. IIAN Sunan Kalijaga adalah salah satu basis organisasi PMII di Yogyakarta.
Habis Aksi selfie ala tahun 98-an

Di Kampus IAIN Sunan Kalijaga, konsolidasi mahasiswa sudah dilakukan terlebih dahulu. Aktivis kampus, organisasi ekstra kampus (PMII) dan aktivis jalanan yang bernaung di bawah Persatuan Perjuangan Pemuda Yogyakarta (P3Y) telah berhasil melakukan konsolidasi dan menjadikan kampus IAIN Sukijo sebagai kampus yang paling intens melakukan gerakan anti orde baru. Aksi-aksi penolakan terhadap rezim orde baru terus disuarakan lewat diskusi, statement, aksi mimbar bebas hingga aksi-aksi kolaboratif tingkat Kota.

Persatuan Perjuangan Pemuda Yogyakarta adalah organisasi yang menaungi para aktivis jalanan asal UJB yang saat itu menjadi pengurus SM-UJB. Organisasi ini dibentuk tahun 1996. Hasil perjalanan panjang dari aktivis pro demokrasi sejak awal tahun 80-an di Yogyakarta.  Lewat Heru Dumairy alian Bung Nongko, mahasiswa FH-UJB angkatan tahun 80-an, saya mendapatkan penjelasan tentang sejarah pendirian PPPY ini. Ia menjelaskan bahwa dahulu kala beberapa aktivis pro demokrasi mendirikan Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY). Setelah itu FKMY bubar lalu aktivisnya mendirikan dua organ baru yaitu Dewan Mahasiwa dan Pemuda Yogyakarta (DMPY) dan Solidaritas Mahasiswa Yogykarta (SMY). SMY lalu berevolusi menjadi Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (SMID) yang berbasis di Fakultas Filasafat UGM, serta RODE yang menjadi faksi SMID yang berbasis di UII. RODE lalu memisahkan diri dari SMID. Dari SMID lalu lahir Persatuan Rakyat Demokratik (PRD) dengan Budiman Sudjatmiko sebagai tokoh sentralnya. PRD melahirkan organ aksi yang intens melakukan aksi-aksi yang sangat frontal, yaitu KPRP, Komite Pemuda Rakyat untuk Perubahan. DMPY kemudia bubar dan beberapa akivisnya mendirikan P3Y. P3Y memiliki basis yang lebih besar dibandingkan PRD dan RODE, karena berisi aktivis yang berasal dari berbagai kampus swasta besar di Yogyakarta. P3Y kemudian membentuk Front Aksi Mahasiswa Pembela Rakyat (FAMPERA) yang menjadi organ aksi yang sangat intens menggelar demonstrasi sepanjang tahun 1997-1998 di Yogyakarta.

Kaharakter berpikir dari semua organisasi prodem tersebut hampir sama. Basis ideologi utamanya adalah Marxisme. Taktik pergerakannya saja yang agak berbeda. Jika SMID dan PRD lebih frontal, sedangkan RODE dan P3Y lebih soft. Aktivis P3Y juga cenderung lebih dekat dengan pemikiran Soekarno dan Tan Malaka. Lebih sosio-nasionalis.

Walaupun demikian karena berasal dari sebuah proses yang sama, 3 organisasi para demonstran ini masih memiliki identitas yang sama. Misalnya selalu menggunakan atribut berwana merah serta menjadikan lagu darah juang sebagai lagu wajib dalam setiap aksi demonstrasi. Menjelang lengsernya Soeharto hanya ada dua organisasi yang sangat menonjol melakukan aksinya, yaitu PRD dengan KPRPnya dan P3Y dengan FAMPERA-nya. Sedangkan RODE hanya melakukan aksi-aksi kecil di kampus UII. PRD menonjol karena aksi demonstrasinya dilakukan dengan cara yang frontal. Setiap kali deminstrasi, peserta aksinya tak banyak, puluhan orang saja. Namun karena selalu berujung bentrok dan rusuh, aksi KPRP selalu menjadi obyek liputan wartawan dari media lokal dan nasional.

Sedangkan P3Y menonjol karena peserta aksinya yang berjumlah lebih massif. Aksi demonstrasi yang diarrange oleh P3Y memang seringkali berujung bentrok dengan aparat. Tapi tak sampai berakhir dengan kerusuhan yang berkepanjangan sebagaimana yang dilakukan oleh teman-teman PRD/ KPRP.

Nah aktivis jalanan di UJB berasal dari P3Y. Maka tak heran Senat Mahasiswa UJB lebih intensif membangun jaringan gerakan P3Y ini.

Lewat P3Y inilah dibentuk berbagai organ aksi yang meilbatkan massa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Basis P3Y terbesar ada di IAIN salah satu lokusnya bernama KeMPed, Komite Aksi Mahsiswa untuk Perubahan dan Demokrasi.
Dan setelah berdirinya KBM-UJB, Universitas Janabadra menjadi basis massa terbesar kedua setelah IAIN Sukijo. Selain IAIN Sukijo dan UJB, P3Y juga memiliki basis massa di Atmajaya, UMY, APMD (Akademi Pemerintahan Daerah), serta jaringan aktivis yang berasal dari kampus swasta lainnya seperti Universitas Veteran (UPN).

Selain intens berdiskusi dan menggelar aksi bersama teman-teman P3Y.  Senat Mahasiswa UJB atas nama KBM UJB juga menjalin aliansi dengan kampus-kampus besar lainnya, seperti Atmajaya, Muhammadiyah, APMD, UPN, Universitas Islam Indonesia serta Universitas Gajah Mada.

Dalam sebuah pertemuan antar pengurus Senat Mahasiswa se Yogyakarta, KBM-UJB mengusulkan pembentukan FKSMY, Forum Komunukasi Senat Mahasiswa Yogyakarta. Ide itu dilontarlkan oleh Eko Prastowo dihadapan peserta forum pertemuan. Gagasan itu diterima oleh rekan-rekan Senat Mahasiswa saat itu. Lewat FKSMY inilah kemudian pertemuan-pertemuan lintas kampus semakin intensif dilaksanakan.
Oya, perlu juga saya sampaikan, bahwa setelah perombakan struktur organisasi dengan menerapkan pemerintahan mahasisiswa di UJB, kampus-kampus lainnya kemudian menyusul. Setelah UJB, kalau tidak salah Universitas Gajah Mada,lalu menyusul Universitas islam Indonesia.

AD/ART Keluarga Mahasiswa IAIN Sukijo dan KBM-UJB dijadikan referensi utama bagi Senat Mahasiswa UGM dan UII untuk merombak organisasi mereka. SM – UJB tentu dengan senang hati membantu mereka.

Selain membangun jaringan dengan kampus-kampus besar, SM-UJB juga mulai menjalin komunikasi  dengan kampus-kampus kecil setingkat Akademi. Jalinan komunikasi tersebut semkain intens mendekati lengsernya Soeharto tanggal 21 Mei 1998 dan setelahnya.
Otak dari pengembangan jaringan itu tentu bukan saya, tapi Eko Prastowo. Dalam struktur organisasi SM-UJB, Eko Prastowo menjabat sebagai Koordinator kebijakan srategis dan pengembangan jaringan. Semacam menteri luar negeri kalau dalam sebuah negara. Maka ia lah yang sangat intens menjalin komunikasi antara gerakan jalanan dengan aktivis kampus, serta membangun komunikasi dengan aktivis kampus lintas perguruan tinggi. Sebagai mahasiswa asli Jogja dan memiliki intensitas yang tinggi mengikuti diskusi dan pergerakan mahasiswa pro demokrasi, ia sangat memahami medan pergerakan di Yogyakarta dibanding saya.

Saya hanya ngikut aja sembari membantu membuat orat-oret tentang skema dan bagan-bagan tentang goal setting. Persoalan tehnis itu saya lakukan tentu dalam perspektif manejemen yang memang menjadi konsentrasi studi saya.

Saat itu SM-UJB juga sangat intensif membangun opini dengan menyampaikan rilis yang berisi statemen-statemen perlawanan kepada publik lewat media lokal dan nasional. Apapun issue yang sedang beredar di tengah masyarakat dikomentari oleh SM-UJB melalui statement resmi yang disampaikan kepada media. Termasuk juga mengawal kasus pembunuhan Udin, wartawan Harian Bernas yang sangat kritis saat itu.

Dalam setahun kliping berita yang memuat statement dari KBM UJB ternyata bisa setebal skripsi. Dulu orang yang rajin mengumpulkan kliping itu adalah Roni Sumbayak. Ia adalah mahasiswa angkatan 1997 hasil pengkaderan awal KBM-UJB menggunakan kurikulum campuran. Ya gerakan jalan, ya aktivitas kampus.

Saya tak tahu, apakah Roni Sumbayak masih menyimpan aneka kliping itu. Kalaupun masih ada, saya masih ingin melihatnya untuk merefresh memory tentang masa yang sudah begitu lama berlalu.


Kontribusi Keluarga Besar Mahasiswa UJB dalam perlawanan terhadap rezim orde baru memuncak dalam 2 momentum. Pertama pada saat aksi sejuta massa di Alun-alun Utara yang kemudian hari dikenal dengan istilah Pisowanan Agung. Dan Kedua saat mendukung Gerakan Rakyat Yogyakarta (GRY) yang ‘memaksa’ DPRD Provinsi DIY untuk menetapkan Sultan HB X sebagai Gubernur DIY dengan menduduki gedung DPRD Provinsi DIY selama sebulan penuh.

MENGINTIP GERAKAN MAHASISWA UJB TAHUN 90-AN: AKTIVIS KAMPUS VS AKTIVIS JALANAN

Bagian I dari 4 Tulisan

Saya masuk di Fakultas Ekonomi Universitas Janabadra pada tahun 1993. Tak ada pertimbangan khusus untuk memilih kampus itu. Bukan karena ideologinya, bukan pula karena kualitasnya. Tak ada pertimbangan rasional saat itu. Pragmatis aja; ketemu brosur, dibolak balik, daftar, ikut test, bayar uang pendaftaran dan… kuliah!

Tahun 1993 mahasiswa baru yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum kuliah di Kampus Timoho.  Sedangkan Fakultas Tekhnik kuliah di kampus Pingit.

Gedung kampus di Timoho itu adalah gedung baru. Tahun 1993 ekonomi Indonesia memang lagi bagus-bagusnya. Temen-temen saya dari pelosok desa Kalimantan Barat banyak yang kuliah di Jogja. Harga jeruk masih sangat tinggi, produksinya juga melimpah ruah. Demikian pula dengan karet, buah pinang, cengkeh dan lada. Tak heran maka sebagian besar kampus di Jogja diserbu oleh masyarakat luar jawa yang makmur gemah ripah gong liwang-liwung itu. Termasuk pula UJB. Mungkin karena alasan itulah, UJB memutuskan untuk membangun gedung baru. Gedung megah berlantai tiga yang dibangun di tepi Jalan Timoho, Yogyakarta.

Seperti juga sebagian besar mahasiswa perantau yang lain, saya menjalani kehidupan belajar di UJB dengan begitu santainya. Ikut organisasi kemahasiswaan malas. Kuliah aja malas, apalagi ikutan organisasi, hehee. 

Tak heran selama dua tahun nasib saya sebagai mahasiswa nelongso banget. IP Nasakom, nasib nol koma. Pergaulan tidak berkembang. Pengetahuan pas-pasan. Keterampilan yang dimilikinya tak jauh dari ngelinting tembako Djie Sam Soe plus tembakau aceh yang bisa bikin kepala goyang-goyang, serta megang leher botol alias mabok. 

Sekitar dua tahun lamanya saya hidup tanpa kesadaran sosial. Merajut sepi, menyendiri dalam kehampaan individual yang hambar.

Saya agak tersadar menjadi ‘manusia’ sekitar tahun 95-an. Seorang rekan satu kampung menginap di rumah kontrakan saya dan selalu mengakak saya ngobrol. Ia lebih banyak bicara tentang makna hidup. Beberapa hari lamanya saya berdiskusi dengannya. Lalu tak tahu apa yang terjadi, saya merasa ada sesuatu yang salah dalam proses kehidupan saya selama ini. Pendek cerita saya bagai terbangun dari tidur panjang saya. Nah sejak saat itulah saya mulai  memasuki kehidupan baru. Mulai memasuki fase 'merasa' menjadi manusia.

Sayapun mulai beraktivias sosial. Menjadi bagian dari pemuda kampung Jl. Cantel, tempat saya ngontrak rumah, tak jauh dari kampus Timoho. Aktif di Masjid, ikut tahlilan, mendirikan TPA dan menghadiri aneka majelis ilmu. Saya juga mulai intens diskusi dengan mahasiswa-mahaiswa lintas kampus yang berdomisili di sekitar kontrakan saya. Termasuk juga mendatangi aneka aktivitas ilmiah di berbagai kampus, serta 'nyantrik' dengan beraneka ragam orang berilmu di pelosok Jogja.

Gak tahu kenapa gairah saya 'bersosialita' saat itu begitu menggebu-gebu. Ruang gerak di sekitar rumah kontrakan menjadi semakin membosankan. "Harus ada ruang gerak baru!", pikir saya saat itu. 

Lalu akhirnya sayapun mulai melirik kampus. Mulailah saya ngumpul-ngumpul dengan teman-teman di Kampus.

Debut pertama saya di Kampus adalah membantu temen-temen mengelola koperasi mahasiswa. Lalu bersama aktivis kampus Fakultas Ekonomi yang lain, seperti Ataullah, Riyeke Ustadiyanto, Asrul Dedek Mandai, Made, Prayit, Dudik, dll, saya terlibat dalam pendirian Klinik Kewirausahawan Janabadra (KKJ). 

UKM ini digagas oleh Ataullah dan Riyeke yang menjadi pentolah anak Jurusan Akuntansi. Saya respek dengan gagasan mereka lalu mendukungnya. Berdirilah kemudian KKJ ini., dengan ketuanya Ataullah dan saya sebagai Sekretarisnya. 

KKJ ini kemudian menjadi salah satu UKM kebanggaan Kampus karena mampu membuka tempurung aktivitas mahasiswa yang terperangkap pada tembok ekslusifitas mahasiswa. KKJ telah berani mendobrak bahwa unit kegiatan mahasiswa tak harus melulu berorientasi pada kesenangan internal mahasiswa. Mahasiswa harus beraktivitas pula demi kemajuan masyarakat. Begitu kira-kira idealisme yang dijadikan fondasi untuk membangun unit kegiatan mahasiswa baru ini.

Gaya akivis Kampus banget...Tahun 1995


Setelah KKJ berdiri, saya dan beberapa teman di jurusan Manajemen merintis berdirinya Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJ-Manajemen). HMJ Manajemen yang kami rintis bersama mahasiswa jurusan manajemen lainnya ini didirikan tak terlepas dari dorongan pentolan mahasiswa jurusan akuntansi yang sudah terlebh dahulu membentuk Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi. 

Ada beberapa nama yang saya ingat turut serta merintis berdirinya Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen itu, seperti Budi Indra Bangsawan, Dudik, Asrul, Sulis, dsb.

Tahun 1997 awal, kalau tidak salah, terjadi sedikit pergolakan di kalangan organisasi Kampus. Organisasi Senat Mahasiswa dianggap kurang mengakomodir kemajuan gerak mahasiswa di Kampus UJB. Maka kawan-kawan aktivis kampus yang agak progressif saat itu melakukan gerilya gagasan. Misinya ingin menjadikan pemilihan Ketua Senat Mahasiswa sebagai salah satu entri point bagi perbaikan kehidupan organisasi kampus.

Lalu beberapa kawan aktivis kampus melakukan pertemuan-pertemuan untuk memanfaatkan moment itu sebagai moment perubahan. Saya terlibat dalam pertemuan itu. Namun tidak begitu intens. Saya sendiri tak berniat untuk mengikuti prosesi pemilihan Ketua Senat tersebut karena masih sibuk membangun dua organisasi baru, HMJ-Manajemen dan Klinik Kewirausahaan Janabadra.

Lalu dilansirlah rencana Pemilu Senat Mahasiswa Universitas Janabadra. Panitia penyelenggaran pemilu tersebut sebagian besar adalah para aktivis kampus yang seangkatan dengan saya. Beberapa rekan pentolan kampus mengajukan dan diajukan sebagai kandidat Ketua Senat Mahasiswa. Sebagian besar adalah pengurus UKM dan perwakilan dari Fakultas.

Tak lama setelah pengumuman penyelenggaraan pemilu Senat Mahasiswa, munculah desas desus bahwa Senat Mahasiswa akan diambil alih oleh aktivis jalanan. 

Aktivis jalanan adalah sebuah istilah yang diberikan kepada mahasiswa yang sering berdemonstrasi di jalanan. Mereka adalah mahasiswa lebih banyak beraktivitas di luar kampus. Kerjaannya adalah diskusi dan demonstrasi membawa tuntutan yang oleh sebagian besar masyarakat sangat menakutkan saat itu, ‘melawan pemerintahan Soeharto’.

Soeharto saat itu sedang jaya-jayanya. Hebat dan kuat. Pemerintahannya solid. POLRI dan ABRI bekerja 100% untuk menjaga kekuasaannya dari aneka rongrongan. Tak ada yang berani melawannya. Mereka yang melawan akan diintimidasi. Tak peduli latar belaangnya. Sudah banyak korbannya. Ada Marsinah, ada Udin juga ada mahasiswa yang diculik dan tak pernah kembali. 

Tak heran bahkan mendiskusikan masalah negara saja tak ada yang berani. Termasuklah sebagian besar aktivis yang bergerak di kampus Janabadra saat itu.

Nah, entah apa motifnya, pada pemilihan senat mahasiswa saat itu santer terdengar para akvis jalanan yang dianggap tak pernah peduli dengan aktivitas organisasi kemahasiswa di kampus ini akan kembali ke kampus. Mereka akan merebut Senat Mahasiswa lalu menjadikan organisasi itu sebagai alat untuk melancarkan berbagai protes sosial politik yang menyasar pada kekuasaan rezim Orde Baru.

Bagi para aktivis kampus, desas-desus ini dirasakan sangat mengkhawatirkan. Mereka khawatir organisasi kampus akan dijadikan sebagai alat untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat politis, yaitu melawan pemerintahan Soeharto.

Beberapa hari setelah pendaftaran Calon Ketua Senat dibuka, desas-desus itu akhirnya terbukti. Beberapa pentolan aktivis jalanan yang dianggap ‘gak nyambung’ dengan chemistry sebagian besar aktivis kampus mendaftarkan diri sebagai Ketua Senat Mahasiswa. Ada Herry Sebayang yang sangat terkenal di Kampus karena pernah melakukan aksi mogok makan melawan Yayasan UJB serta memiliki gaya orasi yang menggetarkan. Ada Eko Prastowo, serta Harry Wisnuadji. Kecuali Harry Wisnuadji, seluruh aktivis itu berasal dari Fakultas Hukum.

Heri Sebayang mendaftarkan diri melalui salah satu UKM bentukan baru. Tim suksesnya yang menjadi ujung tombak adalah Harry Kurniawan, atau Harry Black. Ia adalah salah satu pentolah aktivis jalanan yang sangat piawai dalam ber-retorika.

Karena khawatir, akhirnya para aktivis kampus melakukan pertemuan. Saya beberapa kali mengikuti pertemuan tersebut. Namun hanya mengambil posisi sebagai pendengar saja. Inti dari pertemuan itu adalah para aktivis kampus harus menyatukan suara. Jangan sampai suara terpecah. Kalau terpecah maka posisi ketua Senat pasti akan diambil alih oleh aktivis jalanan yang tak pernah peduli dengan organisasi di kampus. Begitu kira-kira dasar pemikirannya. 

Saya mengangguk-aguk saja mendengarkan jalan pemikiran teman-teman. Mengangguk-angguk bukan karena sepakat. Tapi berupaya mencerna materi yang sedang mereka diskusikan. Saya perlu mencerna dengan susah payah, karena saat itu saya memang sama sekali tak mengenal orang-orang yang mereka maksudkan. 

Saya juga tak paham dengan istilah aktivis jalanan, demonstrasi dan sepak terjang mereka selama ini.

Lalu tak ada panas tak ada hujan merekapun sekonyong-konyong mereka meminta saya turut serta mencalonkan diri sebagai Ketua Senat Mahasiswa UJB.

Lho, kok saya? Tanya saya saat itu. Sayakan sudah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen. Aktif pula di Koperasi juga di KKJ. Hora ono sing liyo, po? Mosok saya yang disuruh ngadepin Hery Sebayang yang walaupun berbadan mungil tapi memiliki suara kayak gledek pada saat orasi itu? Lha saya? Pidato didepan forum aja baru sekali. Itupun direwangi dengan dengkul yang kemelthek. 

"Wah emmoh aku!", begitu kata saya kepada teman-teman saat itu.

Lalu beberapa kawan memberikan beberapa argumen yang pada intinya semakin menyulitkan saya untuk menolak tawaran itu. Pendek cerita, akhirnya tawaran memaksa itu saya terima. Lalu sayapun mencalonkan diri sebagai Ketua Senat Mahasiswa Universitas Janabadra.  Para aktivis kampus yang berasal dari Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Tehnik sepakat untuk membulatkan suara kepada saya. Hal itu mereka lakukan demi menghadang terpilihnya para aktivis jalanan untuk merebut jabatan Ketua Senat sebagai organisasi mahasiswa tertinggi di Kampus.

Perlu diketahui, jabatan Ketua senat saat itu sangatlah bergengsi. Selain sebagai wadah untuk menaungi UKM dengan segala bidadarinya yang lembut-lembut, senat mahasiswa juga memiliki kewenangan untuk mengeluarkan dana dari kampus. Jadi jangan heran jika para aktivis kampus saat itu sangat khawatir apabila para aktivis jalanan itu berhasil merebut posisi Ketua Senat.

Merekakan tak paham organisasi. Kuliah aja gak kelar-kelar. Kerjaannya demonstrasi dan demonstrasi doang. Kerjaannya demonstrasi dan tetap PD teriak-teriak di halaman kampus walau hanya bersama belasan orang peserta aksi saja.  Begitu kira-kira stigma buruk yang melekat pada aktivis jalanan saat itu.

Dengan aneka issue itulah para aktivis kampus ‘menghasut’ mahasiswa untuk tidak memilih aktivis jalanan sebagai ketua senat mahasiswa. Saya sendiri saat itu relatif tak pernah melakukan kampanye. Satu-satunya aktivitas yang saya lakukan adalah mengikuti debat kandidat. Itupun saya hanya ngomong sedikit saja. Mau ngomong apa yo bingung. Hihii.

Oya, saat itu peraturan pemilihan yang ditetapkan adalah setiap mahasiswa dapat mencalonkan diri sebagai ketua senat. Mereka yang memiliki suara terbanyak otomatis menjadi Ketua Senat, dan suara terbanyak kedua akan menjadi sekretaris. Sedangkan mereka yang memiliki suara dibawahnya akan menjadi pengurus dalam organisasi Senat Mahasiswa. Maka setiap fakultas dan UKM mengirimkan wakilnya untuk bertarung memperebutkan Jabatan Ketua Senat Mahasiswa.

Kalau tidak salah saat itu ada 14 orang calon yang mengikuti pemilihan Ketua Senat Mahasiswa. Saya tak ingat semuanya. Namun dari kalangan aktivis kampus diantaranya ada saya sendiri,  ada Galih JP, Jaenal. Dari Fakultas Tekhni ada Ali Murtadlo, Rika. Dari FH ada Setyo (FH) dan dan dari Fakultas Pertanian ada Hubban. Beberapa nama lainnya yang saya lupa. Sementara itu dari aktivis jalanan ada Heri Sebayang, ada Eko Prastowo, dan Harry Wisnuadji.

Beberapa hari menjalang pemilihan dukungan suara terpecah menjadi dua, aktivis kampus dan aktivis jalanan. Lalu mengkerucut pada saya mewakili aktivis kampus dan Heri Sebayang sebagai aktivis jalanan. Sehari menjalang pemilihan mobilisasi suarapun dilakukan. Teman-teman aktivis kampus konsentrasi untuk menggalang dukungan dari UKM-UKM dan mahaiswa yang berasal dari kampus Pingit (FE, FT). Sedangkan Heri Sebayang berkonsentrasi menggalang dukungan dari mahasiswa fakultas Hukum dan Fakultas Pertanian yang saat itu barkativitas di Kampus Timoho.

Saat itu mahasiswa FE, FT baik yang baru maupun yang lama, semua berkuliah di Kampus Pingit. Sedangkan Fakultas Hukum dan Pertanian di Kampus Tiomoho.

Disela-sela aktivitas pemilihan, para aktivitas jalanan itu intens main ke kampus. Disinilah kemudia saya berkenalan lebih dekat dengan mereka. Khususnya Eko Prastowo dan Harry Wisnuadji. Saya menilai pemikiran mereka wajar-wajar saja. Jauh seperti yang digambarkan oleh teman-teman saya para aktivis kampus. Banyak hal yang kita diskusikan. Dari membangun kultur ilmiah hingga merombak struktur organisasi kampus agar tak mengikuti aturan menteri pendidikan yang sangat mengurung kebebasan mahasiswa. Menurut saya, gagasan yang mereka bawa semuanya keren-keren.

Nah setelah melalui proses kampanye, diselenggarakanlah pemungutan suara. Kegiatan pemungutan suara dilakukan di dua kampus. Di Pingit dan di Timoho. Kegiatan itu dilakukan sejak pagi hingga siang hari. Sore jam 3 kalau tidak salah, dilakukan penghitungan suara.

Pada saat penghitungan suara, suara saya dan suara Heri Sebayang saling berkejaran. Salip menyalip. Beberapa saat saya yang pimpin. Disaat yang lain suara Herry Sebayang meninggalkan saya.

Tak beberapa lama hasil perhitungan suara selesai. Heri Sebayang mendapatkan suara tebanyak. Saya berada dibawahnya dengan selisih belasan suara. Dengan demikian Heri Sebayang otomatis terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Janabadra dan saya ditetapkan sebagai sekretaris. Seluruh aktivis kampus menerima hasil pemilihan yang demokratis tersebut, walau ada beberapa kawan yang memendam rasa kecewa.

Mereka yang kecewa berupaya mendramatisir situasi. Salah satunya dengan mengisukan bahwa terpilihnya Heri Sebayang akan membuat aktivitas UKM merosot karena akan semakin sulit mendapatkan dukungan dari kampus. Pengelola Kampus dan Pengelola Yayasan tak suka dengan aktivitas Heri Sebayang dan kawan-kawannya yang suka mengkritisi kebijakan mereka.

Heri Sebayang memang dikenal sebagai aktivis yang militan. Ia pernah melakukan aksi mogok makan untuk memprotes Yayasan karena dianggap menyelewengkan keuangan kampus. Aksi mogok makan itu membuat para pengurus yayasan sport jantung. Media lokal dan nasional memblowup aksi itu.

Saat itu, saya justru biasa-biasa saja dengan aktivis berpostur minimalis itu. Ngapain takut dengan ‘anak-anak’, tepatnya aktivis berpostur anak-anak pikir saya saat itu hahaaaa (seorry bung).

Paska pemilihan umum mahasiswa, saya semakin intensif berdiskusi dengan para aktivis jalanan yang dicap brandalan itu. Kami bahkan menjadikan sekretariat Senat sebagai sekretariat multi fungsi. 
Suasana Sekretariat SM-UJB

Ya sebagai pusat pengelolaan administrasi, tempat diskusi, tempat bobo’, juga menjemur pakaian dalam, hahaa. Bahkan Galih Joko Purnomo yang juga salah satu pengurus SM-UJB saat itu, menjadikan sekretariat SM-UJB sebagai serambi untuk memajang burung berkicau yang menjadi kegemarannya.

Diskusi itu kami lakukan bersama para senator lainnya. Salah satu konklusi dari putaran diskusi itu adalah perlunya melakukan perombakan dalam organisasi kemahasiswaan di Janabadra.
“Mahasiswa harus memiliki pemerintahan sendiri yang otonom dan tidak berada di bawah kampus”. Begitu pemikiran yang disampaikan oleh Eko Prastowo.

“Sip!”,  jawab rekan-rekan lainnya.

Lalu disusunlah rencana untuk membentuk semacam ‘negara mahasiswa’. Saat itu istilah negara mahasiswa sama sekali belum populer. Satu-satunya kampus di Indonesia yang menerapkan sistem itu adalah IAIN Sunan Kalijaga. Itupun baru hitungan beberapa bulan.

Dasar pemikiran negara mahasiswa atau pemerintahan mahasiswa adalah mahasiswa memiliki otoritas penuh untuk menentukan ‘nasib’ sendiri tanpa harus tunduk dengan otoritas pengelola kampus (rektorat, dekan, dsb) juga pemerintah (Peraturan Menteri). Konsepnya dasarnya adalah penerapan trias politika yang digagas oleh Jhon Locke dan Montesquieu.

Gagasan itu disampaikan oleh Eko Prastowo. Inspirasinya mungkin berasal dari aktivis mahasiswa IAIN Suka yang sudah terlebih dahulu menerapkan gagasan itu pada level praksis.

Awalnya saya tak pernah mengenal istilah trias politika itu. Apalagi para penggagasnya. Namun beruntung saya sering mengunjungi Pepustakaan Daerah yang terletak tak jauh dengan Kampus Pingit. Perpustakan Daerah itu jauh lebih sering saya kunjungi dibandingkan kunjungan saya di ruang kuliah. Saya sering menghabiskan waktu seharian penuh untuk mengunyah aneka buku di Perustakaan itu. Lewat beberapa literatur yang saya dapat di perpustakaan itu, akhirnya saya jadi tahu tentang konsep-konsep tata negara.

Trias politica adalah sebuah sistem pemerintah yang dapat menyeimbangkan kekuasaan dalam sebuah negara. Kekuasaan dibagi menjadi 3 yaitu kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Maka para senator terpilih kemudian intens mendiskusikan rencana perombakan besar-besaran terhadap tatanan organisasi kemahasiswaan di Universitas Janabadra. Perombakan itu sangatlah fundamental. Organisasi mahasiswa yang awalnya dikontrol penuh oleh kampus, akan dirubah menjadi semacam negara otonom yang memiliki minial 2 unsur kekuasaan yaitu eksekutif dan legislatif.
PEngurus SM-UJB bobok di kampus...ini bantuin cleaning service nebang pohon

Masalahnya, saat itu organisasi mahasiswa di UJB baru memiliki satu lembaga saja, yaitu lembaga legislatif yang disebut Senat Mahasiswa. Lembaga eksekutifnya belum ada. Masalah lainnya adalah, negara mahasiswa ini juga perlu diberi nama.

Maka disusunlah sebuah rencana yang lebih rinci. Hal pertama yang dilakukan adalah mencari nama untuk negara mahasiswa itu. Jika di IAIN disebut Keluarga Mahasiswa IAIN Suka. Maka di UJB kita sepakat memberinya nama KBM-UJB, Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Janabadra.
Teman-teman kemudian sepakat untuk membentuk dua  lembaga yaitu untuk mengelola KBM-UJB. Lembaga legislatif yaitu Senat Mahasiswa UJB (SM-UJB) serta lembaga legislatif yang disebut Badan Eksekutif Mahasiswa UJB (BEM-UJB).  Tugas SM-UJB adalah membuat peraturan yang diperlukan sedangkan BEM-UJB bertindak seperti presiden yang berfungsi mengelola aktivitas organisasi kemahasiswaan.

Untuk merealisasikan konsep ini memang tidak mudah. Selain belum ada satupun kampus di Indonesia yang menerapkan sistem seperti ini selain IAIN Sukijo, kamipun harus menghadapi penolakan dari berbagai pihak. Ya rektorat, ya aktivis kampus. Kami tak terlalu menggubris penolakan dari rektorat. Kami fokus melakukan sosialisasi perlunya konsep baru ini kepada aktivis kampus. Dan alhamdulillah walaupun para senator ini belum dilantik, mereka mampu meyakinkan para aktivis kampus yang semula menolak untuk kemudian menerima dengan lapangan dada gagasan ini.

Tugas selanjutnya adalah merancang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga KBM UJB. Ditemani dengan mesin tik Royal, AD/ART KBM-UJB pun kami susun. Setelah jadi kami sahkan. Setelah itu menggelar pemilu untuk memilih Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa yang disebut dengan istilah Presiden KBM-UJB. Hasil pemilu menentapkan Riyeke Ustadiyanto sebagai Presiden KBM UJB pertama.

Dengan pembentukan Badan Eksekutif dan terpilihnya Riyeke sebagai Presiden, maka sempurnalah tata organisasi ‘kenegaraan’ KBM UJB. Di bawah KBM-UJB inilah seluruh aktivitas kampus, baik kegiatan di UKM maupun kegiatan di Fakultas-fakultas di koordinasikan. Lalu apa aktivitas Senat Mahasiswa?

bersambung.....


Beni Sulastiyo, 

Pontianak, 27 Desember 2016

ORANG JAWA LEBIH JAGO BERPOLITIK

Iseng-iseng otak-atik angka durasi umur negeri-negeri di Pulau Jawa. Kesimpulannya orang Jawa itu lebih jago berpolitik daripada orang ...