Tampilkan postingan dengan label dikejar rezeki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dikejar rezeki. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Oktober 2014

Trust Society Ala Gus Tanto

Kalau ga salah sekitar 5 tahun yang lalu saya membaca buku Kinichi Ohame yang berjudul Trust Society. Ohame adalah seorang futuristik kawakan dari Jepang yang mengajukan tesis bahwa kemajuan sebuah bangsa sangat terkait erat dengan kejujuran dari masyarakatnya. Menurutnya masyarakat yang jujur akan membuat relasi antar masyarakat menjadi lebih cepat dan lebih efektif. Misale temen saya yang jualan ikan di Pasar Flamboyan Pontianak, itu ga perlu pake giro untuk mengambil ikan dari pengepul. Cukup buat nota dari kertas bungkus rokok ia bisa mengambil ikan bernilai belasan juta dalam waktu yang tak sampai 5 menit. Bandingin aja ama proses pinjam uang di Bank...mumet buanget dah. Yo ribet, suwi dan belum pasti juga cairnya.
Nah, kejadian pada Gus Tanto yang dikejar2 sama pemilik ladang minyak, atau tambang batu bara kalau dijelaskan saya pikir ya sama dengan maksud bung Ohame tadi. Itu semua terjadi karena persoalan trust, persoalan kepercayaan.

Kalau mendengarkan cerita dari Gus Tanto, bahwa titik baliknya itu terjadi justru pada saat ia sibuk ngurusin pesantren dan anak yatim dan meninggalkan kesibukan bisnis. Banyak orang yang justru mengajaknya berbisnis justru ketika ia tidak ngurusin bisnis. Lho kok bisa...
Ya ga tau persis juga saya.Tapi sunatullah nya memang gitu. Kalau mau dipaparkan lewat analisis sebab akibat hal itu terjadi karena persoalan trust yang dimaksud ama k ohame tadi. Maksudnya, kalau kita berbisnis, normalnya kita akan berbisnis dengan orang yang jujur dan komit. Karena pada dasarnya semua orang memerlukan rasa aman atas aset-asetnya. Bahkan seorang mafia besar sekalipun ga suka sama mafia-mafia yang ga jujur dan ga komit.
Nah, saat Gus Tanto menyantuni anak yatim dan santri, banyak orang yang mengamatinya. Dan karena perilakunya yang sederhana dan apa adanya membuat banyak orang yang bersimpati kepadanya. Ketika itu terjadi Gus Tanto menjadi pusat berkumpulnya orang-orang baik. Orang-orang baik itu tentu saja menghasikkan data dan informasi yang baik-baik pula. Ketika itu terjadi, maka informasi tinggal dikelola. Informasi tentang 8000 ikan lele per hari disampaikan kepada pengusaha restoran lele. Informasi tentang areal tambang yang akan dijual tinggal disampaikan kepada pengusaha tambang yang sedang mencari areal tambang.Demukian seterusnya. Posisi manajer informasi berbasis kejujuran dan kepercayaan ini derajatnya jauh lebih tinggi dari makelar motor atau mobil. Kalau makelar biasanya hubungan antara pemilik dan pembeli akan terputus seketika usai transaksi dilakukan. Tidak demikian halnya dengan manajer informasi berbasis kepercayaan dan jejujuran. Kalau istilah www.kajiedan.com, orang seperti ini seperti belantik. Belantik adalah makelar sapi yang sering kita jumpai dipasar tradisional di pulau jawa.

Analogi belantik klop dengan apa yang terjadi pada Gus Tanto. Yang berbeda ada produk dan nilai produj yang dibelantiki aja. Kalau belantik sapi di Pulau jawa produk utamanya sapi dengan nilai transaksi 8-15 juta, sedangkan produk yang dibelantiki Gustanto bisa jadi lahan tambang dengan nilai 8-15 trilyun!
Perbedaan lainnya, kalau belantik sapi produknya hanya terbatas, sedangkan Gus Tanto yang memiliki banyak keahlian dan jaringan yang luas itu, memiliki produk yang tak terbatas.
Nah, fenomena belantik spiritual sukses ala gustanto ini secara sosio-bisnis memang sangat diperlukan. Karena semakin langkanya person dan atau organ yang masih memgang teguh nilai-nilai kejujuran dan keikhlasan. Para pelaku bisnis memerlukan penjual, produsen, dan pembeli yang kredibel yang direkomendasikan dan dipertemukan oleh orang yang kredibel pula. Disinilah letak penting sebuah organisasi berbasis komunitas tetap seperti pesantren atau pondok. Karena sebesar apapun sebuah organisasi islam, jika tak memiliki basis keanggotaan yang tetap, akan sangat sulit membangun kepercayaan dari pelaku-pelaku bisnis karena saratnya tarik-menarik kepentingan di dalamnya.

Minggu, 12 Oktober 2014

Belajar Dari Gus Tanto Lagi

Pasrah total adalah kunci dari Gus Tanto dalam menyelesaikan persoalan utangnya yang fantastis. Gimana bisa, hanya pasrah lalu utang 58 Milyar bisa selesai? Enak bener...
Ya tentu ga semata-mata pasrah. Tapi pasrah itu memang modal utama agar kita bisa keluar dari masalah. Lho kok bisa? Oke begini logikanya...bahwa tak ada satupun didunia ini yang lepas dari skenario Allah. Bahkan daun yang jatuh dari pohon pun adalah hasil skenario dari Allah. Penciptaan, kehidupan, kematian, semua dari Allah. Kehidupan bagi satu makhluk adalah kematian bagi makhluk lain kehidupan manusia adalah kematian bagi beribu tumbuhan yang kita makan. Dan entah berapa ribu sapi, ayam, ikan dan berjuta microorganisme. Kematian manusia adalah kehidupan pagi penggali kubur, penjual kain kafan, peserta tahlilan (hehee), berjuta organisme yang kemudian menumbuhkan tanaman, dst. Bagi Allah itu bukan masalah. Itu adalah tugasNya karena Dialah Yang Maha menghidupkan dan mematikan. Dalam 'kamus' Allah tak ada kata nasalah. Masalah itu adalah ciptaan manusia saja yang memandang segala sesuatu dari sisi untung rugi keegoan dirinya saja.
Nah karena kita itu makluk yang selalu menghitung untung rugi, dan pengeluh maka kita beranggapan bahwa sesuatu yang merugikan itu adalah masalah, sedangkan yang menguntungkan sebagai hasil yang wajar dari usahanya. Ihhh egois banget! Hihiii.
Tapi sayangnya kita itu makhluk yang lemah.ketika masalah datang bertubi-tubi kita yang rapuh ini menjadi pusing strrss dan depresi. Kita menyalahkan kawannkita, lingkungan kita, dan diri kita sendiri. Saat hal itu terjadi kita yang dianugrahi akal, imaginasi, dan kemampuan yang sempurna pun jadi lumpuh tak berdaya. Akal pun tak berguna, semua yang ada disekitar kita kita anggap sebagai masalah. Ketika itu terjadi jangankan berpikir, bernapas aja sesak! Ancor e.
Nah Gus Tanto mengajak kita untuk mengembalikan masalah itu kepada Allah.Karena memang Dialah Yang menjadi sumber masalah, tapi bukan biang kerok lho. Tapi Allahlah yang memiliki skenario terhadap masalah yang dihadapi. Karena kita sudah tak mampu, ya udah kembalikan dulu kepada Allah...sampaikan kepadaNya bahwa amanat masalah milikNya tak mampu kita selesaikan. Lalu minta tolong supaya Allah aja yang menyelesaikan. Tekan enter kirimkan...jreng...nah selesai deh masalah. Sekarang agak legaan kan?

Bersambung...

Belajar dari Gus Tanto

Sabtu tanggal 11 kemarin asisolution, dibawah komando Aep, mengundang Gus Tanto. Gus Tanto adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki segudang profesi, yaa seorang kyai, guru spiritual, budayawan, dan penyantun ribuan anak yatim.
Gus Tanto menulis buku yang berjudul Dikejar Rezeki. Dalam buku itu Gus Tanto menyampaikan pengalamannya tentang keberhasilannya keluar dari lilitan utang yang besarnya fantastis, 58 Milyar! Dan setelah itu justru kemudian ia dikejar rezeki.
Jujur, saya belum mampu mendapatkan formulasi tentang bagaimana ia bisa terbebas dari lilitan utang serta bisa menjadi magnet sehingga ia dapat menjadi obyek yang dikejar-kejar oleh si rezeki itu. Syukurnya, sebagai pengelola Pondok Modern Munzalan Ashabul Yamjn (PMM AY), lembaga yang menaungi asisolution, saya punya kesempatan besar untuk menggali lebih dalam inti dari gagasan Gus Tanto.

Inti Gagasan Gus Tanto
Jika mencermati buku, ceramah dan hasil diskusi tatap muka dengan Gus Tanto kita dapat menyimpulkan inti gagasannya sebagai berikut:
1. Rezeki itu adalah obyek gaib, ia berbeda dengan uang dan harta. Rezeki itu diberikan Allah kepada siapapun yang Allah kehendaki.jadi rezeki itu bukanlah hasil kerja manusia, tapi hasil pemberian Allah. Oleh karena itu suka-suka Allah mau kasih ke siapa, kita tak boleh protes. Namun demikian ikhtiar untuk menarik perhatian Sang Pemberi Rezeki haruslah dilakukan.
2. Ikhtiar yang dilakukan adalah dengan 'melobby' Sang pemberi Rezeki dengan cara yang telah diajarkan Rasulullah tanpa sedikitpun mengharap atau berharap kepada manusia. Full dan Total minta kepada Allah.
3. Agar lobby lancar, maka kita harus melakukan perbaikan diri dulu, meluruskan tauhid, melaksanakan kewajiban dalam rukun islam, membuang rasa sombong, meningkatkan ibadah-ibadah sunnah, berinfaq, serta berpasrah kepada Allah.
4. Pasrah dan menyadari bahwa semua yang terjadi apakah rezeki yang banyak atau aneka masalah yang kita hadapi itu berasal dari Allah sehingga hatus diterima dengan ikhlas secara total. Ikhlas dengan rezeki yang dititipkan ikhlas pula dengan ujian dan masalah yang diberikan Allah

Bersambung

ORANG JAWA LEBIH JAGO BERPOLITIK

Iseng-iseng otak-atik angka durasi umur negeri-negeri di Pulau Jawa. Kesimpulannya orang Jawa itu lebih jago berpolitik daripada orang ...