Tampilkan postingan dengan label swadesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label swadesi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2013

Tips Bangun Pagi

Bagi sebagian besar teman yang bergerak di industri kreatif,  bangun pagi adalah aktivitas yang sangat sulit dilakukan. Kebiasaan bekerja di malam hari dan keengganan untuk melepaskan nikmatnya hidup  bermalas-malasan, merupakan beberapa penyebab saja dari kebiasaan bangun siang.

Namun, hukum alam pasal pembagian rezeki justru mengatur bahwa sebagian besar pembagian rejeki di bidang industri kreatif itu terjadi pada di pagi hari, bukan malam hari. Oleh karena itu jangan heran jika para pekerja kreatif yang punya tradisi bangun pagi cenderung lebih baik hidupnya dibandingkan dengan pekerja kreatif yang bangun dan mulai beraktifitas saat matahari sudah sangat tinggi.

Oleh karena itu bangun pagi harus dijadikan tradisi bagi kita semua.Jika tidak bisa, jangan harap hidup kita dapat beranjak menjadi lebih baik.

Bagi teman-teman yang masih sulit bangun pagi, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan.

1. Atur Waktu Tidur
Kebanyakan masalah sulitnya bangun pagi adalah rasa lelah pada otot mata dan badan akibat terlalu malamnya kita istirahat. Jika terlalu lelah sehebat aoaoun anda mengatur waktu bangun, akan tetao gagal. Oleh karena itu jangan atur bangun anda rapi aturlah tidur anda. Jika Anda punya kebiasaan tidur jam 2 subuh, rubahlah. Paksakanlah agar maksimal pada pukul 10 malam anda sudah menghentikan aktivitas dan tidurlah. Semakin awal kita tidur semakin mudah kita untuk bangun di pagi hari.

2. Buatlah timer lamp di kamar tidur.
Jika kita terbiasa tidur dalam keadaan gelap, rubahlah kebiasaan tidur dibawah cahaya lampu.Hal ini akan mempermudah kita untuk tidak kembali tidur saat telah terjaga dari tidur di pagi hari. Suasana kamar yang gelap akan menghasut kita untuk tidur kembali,  walau kita telah terjaga dipagi hari. Jika tak bisa tidur dalam keadaan terang, pasanglah timer yang memungkinkan lampu kamar tidur Anda menyala secara otomatis pada pagi hari.

3. Carilah hobby yang dilaksanakan pagi hari.
Jika Anda punya hobby, lakukanlah hobby tersebut dipagi hari. Hal ini sangat manjur. Saya sendiri dapat lebih mudah bangun pagi setelah memiliki hobby berburu yang mengharuskan saya turun dari rumah jam 4 pagi.

4. Langsung beraktivitas.
langsunglah melakukan aktivitas pada saat Anda terjaga dipagi hari. Misalnya langsung ke kamar mandi cucimuka dan gosok gigi.lalu membuat kopi, bermain game di komputer atau lari pagi.

5. Spray Anti Malas
Kalau masih sulit bangun pagi, pergilah ke toko parfum dan belilah botol parfum kosong dan isilah dengan air bersih. Simpan di dekat bantal anda.Jika anda terjaga dipagi hari, semprotkan air tersebut di mata dan muka Anda. Setelah air membasahi wajah Anda pasti Anda enggan memejamkan mata kembali. Cara ini sangat manjur untuk melatih anak saya bangun pagi. Anak saya yang berumur 4 tahun menyebutnya obat anti malas.

Gitu caranya bangun pagi bro. Saya yakin tios ini sangat mujarab soalnya sudah dipraktekin, hehee.

Pekerja

Ada beberapa hal yang perlu kita pahami dalam melaksanakan misi sosial sebagai insan swadesi. Pertama didunia ini sudah sunatullahnya ada pengusaha dan ada pekerja.
Para pengusaha kayak kita ini bekerja berdasarkan tanggungjawab, visi dan cita-cita, kesenangan dan empati yang tinggi kepada konsumen. Sedangkan pekerja itu bekerja dengan orientasi bayaran. Mereka akan mendapat bayaran sesuai dengan pekerjaan yang menjadi kewajibannya. Mereka dak pernah disibukan dengan cita-cita.

Nah, kite tidak bisa memaksakan orang untuk menjadi salah satunye.Yang bisa kita lakukan adalah menyalurkan potensinya.Jika memang bakatnya pekerja ya harus dikontrol apa yg jadi tanggung jawabnya.jika bakatnya jadi pengusaha ya harus dibina terus apa empatinya, cita-citanya dan kesenangannya agar produktif.

Swadesiprinting sebagai sebuah organisasi bisnis juga tak akan mampu menghindar dari sunatullah itu. Oleh karenanya mereka yang mengelola harus memahami cirikhas dari manusia yang ada didalamnya. Dan adalah menjadi kewajiban kita untuk membantu siapapun agar dapat menemukan diri mereka sendiri, menggali dan memanfaatkan potensi diri, bersikap mandiri dan peduli serta bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Jika mereka tidak mau, maka gugurlah kewajiban kita....

Mesin Absensi

Paket ini adalah kiriman dari Bhinneka.com yang berisi mesin absensi sidik jari. Mesin itu akan saya gunakan di SwadesiPrinting yang saat ini mengelola dan dikelola oleh lebih kurang 20 orang.

Mesin ini mungkin sudah sangat biasa bagi organisasi-organisasi bisnis yang mapan. Tapi bagi kami mesin ini adalah mesin yang sama sekali baru.

Mesin ini bukan sekedar mesin yang merekam jam kerja karyawan, tapi sebuah prasasti fungsional yang akan menjadi simbol transformasi manusia swadesi. Dari seorang manusia yang tak mau terikat waktu menjadi manusia yang harus tunduk dengan waktu. Dari manusia yang memiliki jam kerja suka-suka menjadi manusia yang memiliki jam kerja yang tetap dan teratur. Dari manusia yang tak pernah tegas dengan kesalahan akibat keterlambatan, menjadi manusia yang akan membeci kesalahan akibat keterlambatan.

Saya yakin akan ada penolakan dari rekan-rekan swadesi dengan kebijakan penerapan mesin pencatat yang superjujur ini. Alasan yang akan mengemuka adalah mesin itu akan membuat lingkungan kerja menjadi tak nyaman karena menjadi terlalu saklek dengan waktu kerja.

Jika penolakan itu terjadi maka mereka yang menolak harus membuat kesepakatan tertulis dengan saya. Isinya adalah menerima dengan ikhlas dan lapang dada jika manajemen tidak tepat waktu dalam menyerahkan gaji atau THR. Sehingga gaji boleh terlambat hingga satu minggu, dan THR boleh terlambat hingga satu bulan. Pasti mereka mau, bukankah ketepatan waktu dalam gajian dan perayaan lebaran itu tidak penting? Dan bukankah ketepatan waktu dalam gajian atau pemberian THR itu adalah bentuk kesaklekan yang akan  membuat suasana kerja menjadi kaku?

Hihiii...

Pontianak, 22 Desember

Rabu, 18 Desember 2013

W.A.K.T.U

Semua manusia memiliki jatah yang sama dalam sehari, seminggu sebulan atau setahun. Tapi mengapa hasil pencapaian sesorang dalam kehidupannya bisa berbeda?

Usama bin Zaid, sahabat Nabi berumur 20 tahun misalnya, telah mampu memimpin dan mengelola pasukan tempur sebanyak 3rb prajurit pada saat penaklukan kota yang berada dalam kekuasaan Romawi.  3rb pasukan itu setara dengan 3 batalyon. Satu batalyon biasanya beranggotakan 1000 prajurit dan dipimpin oleh perwira bepangkat Kolonel dengan umur antara 40-50tahun.

Pertanyaannya, kapan dan bagaimana bang usama itu mengelola dan memanfaatkan waktunya untuk belajar, untuk berlatih, untuk bermain, refreshing atau bercengkrama dengan rekan-rekannya. Sehingga dengan usia semuda itu ia telah memiliki pengetahuan dan mental untuk memimpin pasukan yang demikian banyak?

Sementara pada usia yang sama kita bahkan belum mampu memimpin panitia 17an di kelurahan. Bahkan pada saat umur telah hampir menginjak kepala 4 seperti saya, kita masih kewalahan mengatur organisasi dengan jumlah manusia di bawah 20 orang?

Setelah melakukan refleksi, ternyata betul bahwa sebagian besar manusia itu merugi karena seringkali menyia-nyiakan waktu yang kita miliki.  Karena tak mampu memanfaatkan waktu pada saat remaja untuk belajar dan mengasah kererampilan, akibatnya pada saat umur  telah mencapai 30 tahun, pengetahuan dan mental kita ternyata masih jauh tertinggal.

Entahlah, dulu saya tidak terlalu percaya bahwa ada hubungan antara prestasi seseorang dengan kemampuannya menghargai waktu. Artinya, mereka yang cenderung bersikap tepat waktu akan cenderung lebih berprestasi dibandingkan seseorang yang tak bisa bersikap tepat waktu. Namun kini saya percaya dengan teori itu.

Dan sayapun sangat percaya bahwa teori itu juga berlaku pada sebuah organisasi bisnis. Bahwa organisasi yang tak mampu menghargai waktu akan sulit berkembang dibandingkan dengan organisasi yang mampu mengatur waktu dengan tegas.

Bayangkan, apa jadinya sebuah organisasi bisnis jika setiap bulan selalu telat membayar gaji untuk karyawannya. Selalu telat menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan customer kepadanya. Selalu lalai membayar hutangnya kepada pihak ke-3. Dan apa jadinya organisasi bisnis apabila karyawan yang bekerja dalam organisasi bisnis tersebut tak memiliki rentang waktu yang jelas dalam bekerja.
Sangat mustahil bukan organisasi tersebut akan maju?

Oleh karena itu, sudah saatnya kita mulai belajar untuk menghargai waktu. Menghargai waktu adalah entry point agar kita dapat lebih terampil dalam mengelola waktu. Dan keterampilan dalam mengelola waktu adalah entry point bagi sebuah kesuksesan.

Dan apabila kita menjadi orang yang gagal menghargai waktu kita sendiri, setidaknya kita tak boleh gagal untuk belajar menghargai waktu orang lain.

Pontianak, 19 Desember 2013.

ORANG JAWA LEBIH JAGO BERPOLITIK

Iseng-iseng otak-atik angka durasi umur negeri-negeri di Pulau Jawa. Kesimpulannya orang Jawa itu lebih jago berpolitik daripada orang ...