Rabu, 28 Desember 2016

SEJARAH GERAKAN MAHASISWA 98 DALAM PERSPEKTIF KAMPUS

d

Sebagian besar kawan-kawan aktivis gerakan 98 itu tidak memiliki jiwa romantis. Tak heran jika digoogling, sangat jarang ditemukan tulisan tentang gerakan 98 yang berasal dari pelaku gerakan itu sendiri. Padahal saya tahu persis sebagian besar dari mereka sangatlah jago menguntai kata lewat tulisan.
Demikian juga saya. Baru kali ini saya menulis tentang tema gerakan mahasiswa dengan latar tahun 98. Dan sungguh tema ini begitu menyulitkan, hahaa.
Saya sungguh harus bersusah payah merayapi memori yang telah terpendam selama 18 tahun lamanya. saya juga harus bersusah payah untuk mengalahkan jiwa ketidakromantisan saya agar bisa mengingat-ngingat kejadian masa lalu.
Dan alhamdulillah, akhirnya saya berhasil menuliskan sebagian kecil dinamika mahasiswa yang terjadi pada tahun 90an.
Tujuan saya menulis tentang sejarah gerakan 98 dalam perspektif 'kekampusan' ini,  semata-mata untuk menyemangati gerakan mahasiswa di almamater saya yang menurut beberapa kawan sedang mati suri.
Oya tulisan ini sangatlah bernuansa kekampusan. Karena memang ditujukan untuk menyemangati mahasiswa di Kampus saya, Universitas Janabadra Yogyakarta.
Kampus ini bukanlah kampus yang trendy, bukan pula kampus yang kesohor dan memiliki cabang dimana-mana. Universitas Janabadra satu-satunya ya hanya di Yogyakarta. Di Kota pelajar inipun kampus saya ini tidaklah terbilang kampus yang ngetop. UJB hanyalah kampus yang biasa-biasa saja. Bahkan terbilang sangat sederhana.
Namun dibalik kesederhanannya itulah saya tak bisa melupakan kampus ini. Karena dikampus inilah kami pernah mengobarkan perlawanan terhadap kaki tangan penguasa yang menggerogoti kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui tulisan yang saya bagi dalam 4 tulisan ini saya berharap semoga perlawanan-perlawanan atas ketidakadilan penguasa terhadap rakyat dapat kembali dikobar-kobarkan oleh kawan-kawan mahasiswa.
Jujurlah wahai pemuda, bukankah kita semua rindu dengan teriakan-teriakan perlawanan? Jujurlah wahai pemuda...bukankah kita semua tahu telah terjadi ketidakberesan dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara?
Ayo bergerak kemballi kawan. Jelaskan kepada rakyat ada begitu banyak ketidakberesen yang terjadi di negeri ini, untuk rakyat, demi masa depan generasi nusantara....

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BERIKUT TULISANNYA. AGAK PANJANG, MAKA SAYA SPLIT DALAM 4 BAGIAN. DISUSUN DENGAN BELASAN BATANG ROKOK DAN BEBERAPA GELAS KOPI, SILAHKAN DINIKMATI...

  1. MENGINTIP GERAKAN MAHASISWA UJB TAHUN 90-AN: AKTIVIS KAMPUS VS AKTIVIS JALANAN
  2. MENGINTIP GERAKAN MAHASISWA UJB TAHUN 90-AN: KBM UJB DAN GERAKAN MAHASISWA JOGJA
  3. MENGINTIP GERAKAN MAHASISWA UJB TAHUN 90-AN: KBM-UJB DAN AKSI 20 MEI 1998
  4. MENGINTIP GERAKAN MAHASISWA UJB TAHUN 90-AN: GERAKAN RAKYAT YOGYAKARTA 

HARLEY DAVIDSON, CORNELIS DAN BRAND LOYALIST


Jika kita seorang pengusaha tentulah senang jika ada orang yang begitu loyal dengan produk/ brand yang kita jual. Loyalitas customer ini menjadi idaman bagi setiap pengusaha.
Pelanggan yang loyal akan melakukan tindakan-tindakan yang menguntungkan bagi produk kita dalam jangka panjang. Para loyalis brand ini setidaknya akan melakukan 3 hal, yaitu repeat purchase, kesetiaan terhadap pembelian produk, retention, ketahanan terhadap pengaruh yang negatif mengenai perusahaan, serta referalls, mereferensikan secara total esistensi perusahaan. Begitu kata Bung Kotler dan Kellerr (2006 ; 57).
Tak mudah lho membentuk pelanggan yang demikian loyalnya pada produk kita! Perlu kerja-kerja yang sangat serius dan bersifat jangka panjang untuk membangun citra dan reputasi.
Dalam sebuah ceramah, pakar marketing ternama nusantara yang saya kagumi, Hermawan Kertajaya pernah mengatakan begini, “saya tidak pernah menemukan satu pun brand di dunia ini sehebat brand Harley Davidson. Karena setahu saya hanya brand Harley Davidson saja yang rela dipahat dijadikan tatto oleh begitu banyak orang di dunia. Mereka rela memahatkan itu dengan berdarah-darah karena merasa bangga dengan HARLEY DAVIDSON.
Hahaaa. Saya tertawa mendengar statemen Hermawan Kertajaya saat ceramah di Pontianak beberapa waktu yang lalu.
Betul kata Hermawan Kertajaya. Sampai sekarang saya memang belum pernah melihat ada orang yang mentatto tubuhnya dengan merk Yamaha, Honda, Seiko, Sanyo, Pizza Hut, KFC, atau Swadesiprinting! Satu-satunya merk yang ramai-ramai dipahat di kulit para customernya dengan sukarela yaa hanya Harley Davidson! Sungguh luar biasa!
Begitu juga dengan brand orang-orang terkenal di Indonesia. Saya tak pernah menyaksikan ada orang yang mentatto tangan atau bahunya dengan nama-nama politisi modern saat ini. Tak pernah saya saksikan ada seorang yang mentatto dirinya dengan tulisan “JOKOWI”, AHOK, PRABOWO atau Susilo Bambang Yudhoyono.
Tapi pada saat berjibaku menggelar Kalbar Book fair di Rumah Radakng Pontianak beberapa waktu yang lalu saya menjumpai seorang pria berbadan kekar dan berambut awut-awutan yang menatah tangannya dengan tatto bertuliskan “CORNELIS”.
Cornelis bukanlan tokoh politik nasional. Beliau adalah Gubernur Kalimantan Barat dua periode. Beliau terpilih untuk kedua kalinya karena berhasil menjaga konsolidasi sosial politik dengan cara-cara yang di luar kebiasaan banyak tokoh di Kalbar.
Saya tak tau persis bagaimana tatto itu terpahat di lengan kiri seorang pemuda berbadan kekar bernama Dayat Kepo ini. Tapi jika melihat kharakter strategi pemasaran Pak Cornelis yang membumi dan akomodatif saya tak heran jika ia memiliki para loyalis sebagaimana para loyalis ueddan nya Harley Davison. Cornelis saat ini menjadi tokoh satu-satunya di Kalbar yang memliki pendukung yang loyal. Tatto yang dipahat di lengan orang ini setidaknya menunjukan itu! Warbiassah!
Rumah Radakng, 30 oktober 2016

BERDEMOKRASI DAN BERCANDA TAWA




Unjuk rasa 411 dengan berjuta massa tanpa kekerasan fisik adalah sebuah pertanda yang baik dalam pembangunan demokrasi Indonesia.
Dalam demokrasi, warga negara berhak untuk menyampaikan gagasan dan pendapatnya untuk mempengaruhi kebijakan negara. Negara tak boleh menekan dan menghalangi pendapat warganya.
Dalam demokrasi, perbedaan pemikiran dan pendapat antar sesama warga negara juga harus dianggap sebagai peristiwa yang biasa-biasa saja. Sebagai warga negara kita perlu membiasakan diri untuk berbeda pemikiran dan pendapat antara satu dengan yang lain.
Namun demikian, perbedaan pemikiran/ pendapat janganlah dilandasi pada niat untuk menyingkirkan antara satu dengan yang lain. Karena dalam negara demokrasi, sekuat apapun dan sebenar apapun seorang warga negara, tetap saja hak untuk menyingkirkan seseorang atau sekelompok orang ada pada aparat penegak hukum sebagai bagian dari institusi negara.
Oleh karena itu, jika sepakat negara ini tetap ada, mari nikmati perbedaan pendapat dengan canda dan tawa!
Dan pastikan sambil bertukar pendapat, hubungan sosial tetap erat, serta kita semua tidak semakin melarat!

UANG MEMANG MASALAH


Heboh betul ya masalah simbol palu-arit di uang kertas pecahan 100rban. Saking hebohnya, lalu banyak orang yang mendadak jadi peneliti uang kertas. Semua uang kertas diamati. Diperiksa satu-satu.
Tak lama mulai ada yang memposting hasil temuannya. Tereng! Simbol palu arit ternyata ditemukan juga pada pecahan uang 5rban.
Wah jelas sudah! Pemerintah Jokowi memang pembela paham komunis. Negara ini telah disusupi oleh paham komunis dari Tiongkok! Pantas saja negara ini berpihak pada Ahok.
Tak lama, ada klarifikasi dari Bank Indonesia. Istri saya yang juga bekerja di Bank sentral itu juga ikutan sibuk membagi-bagikan informasi tentang simbol yang menyerupai palu arit itu. Isi klarifikasinya menjelaskan bahwa yang diributkan itu adalah rectoverso, sebuah instrumen pengaman untuk menghindari pemalsuan. Setelah itu kehebohan berlalu begitu saja.
Itulah Indonesia. Negeri tercinta ini.hihii.
Seorang TKI juga pernah protes dengan karyawan bank swasta di Kota Jeddah, Arab Saudi karena ia anggap orang Arab telah menistakan kyai dan ayat Quran.
"Gimana kalian ini", kata sang TKI "Masak kalian tega menempelkan foto kyai dan ayat Quran dalam duit. Saya jadi susah. Karena setiap mau buang air kecil, saya harus taruh dompet saya di luar. Untungnya saya tahu sedikit-sedikit tentang ilmu agama. Ini penghinaan terhadap ulama penghinaan terhadap simbol-simbol agama", protesnya dengan nada tinggi di depan kasir sambil menunjukan uang 100 riyal.
Sang kasir tersenyum ramah. Tapi keningnya berkerut. Ia tak tahu TKI itu ngomong apa. Soalnya ia marah pakai bahasa madura.
Haha ancore...
Oh indonesiaku....
-----------
Bungben, pontianak 14/11/16

GUSDURIAN, ORMAS ISLAM DAN PENISTAAN


Perdebatan tentang boyek penistaan yang dilakukan oleh Ahok masih ramai. Mui sudah memutuskan bahwa Ahok telah menistakan 2 hal. Ulama dan Al Quran. Tapi menurut orang-0rang yang kontra dengan keputusan itu, Ahok tidak bermaksud menistakan. Tapi memberitahu bahwa ada orang yang berusaha menjadikan ayat-ayat Alquraan agar tidak memilihnya dalam Pilgub DKI.
Ntah seperti apa keputusan hukum atas perbedaan pendapat itu, yaa.
Persoalan yang sama dulu pernah juga terjadi saat saya kuliah di Yogyakarta. Sekitar tahun 1999 akhir. Saat heboh-hebohnya proses pemilihan presiden paska Presiden Habibie. Ada dua tokoh utama yang digadang-gadang oleh masyarakat saat itu, Amin Rais dan Gus Dur.
Gus Dur didukung oleh masyarakat tradisional dan partai-partai beraliran nasionalis-religius di Senayan. Sedangkan Amin Rais didukun oleh masyarakat perkotaan dan partai-partai Islam. Masing-masing kelompok masyarakat membangun rasa fanatik dikalangan masyarakat dan Mahasiswa. Yang fanatik ke Amin Rais sangat anti dengan issue-issue pluralisme dan sosialisme. Yang fanatik ke Gusdur membentuk aliran sendiri yang dinamakan Gusdurian.
Friksi tersebut sangat terasa hingga ke ruang-ruang kampus-kampus bahkan masjid. Termasuklah di Kampus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Aktivis mahasiswa di IAIN Suka dikenal sebagai orang yang begitu fanatik dengan Gus Dur. Suatu ketika, dalam sebuah momentum Shalat Jumat, Imam Masjid IAIN Suka membaca Alfatihah. Setelah membaca ayat terakhir, Waladdhoooooliiin, maka seperti biasa secara serentak jamaah pun menyahut dengan suara keras, Aaaaaamiiiin.
Lalu entah siapa. dibarisan belakang ada seorang jama’ah nyeletuk agak sedikit nyaring....”amin terussss, Gus Dur ee kapan...” katanya dengan logat bahasa Jawa Ngoko.
Beberapa jama’ah yang dekat dengan tukang nyeletuk itu menahan tawanya. Celetukan iseng ini ternyata berbuntut panjang.
Salah seorang jama’ah yang mendengar celetukan iseng itu melaporkan kejadian itu kepada sebuah ormas. Mereka menganggap mahasiswa IAIN Suka telah melakukan pelecehan terhadap ibadah ummat Islam.
Orang itu pasti komunis, sesat. Liberal, kafir! Begitu kesimpulan orang-orang anggota ormas itu.
Lalu ramai-ramai ormas itu mendatangi sekretariat UKM Mahasiswa IAIN, lalu mengobrak-abrik kesekretariatan mereka. Mahasiswa yang tak menyangka diserang dengan orang-orang marah itu berhamburan menyelamatkan diri.
Malamnya pengurus organisasi mahasiswa membuat statement yang menyayangkan aksi pengrusakan itu. Mereka menganggap tindakan itu adalah tindakan main hakim sendiri. Dan oleh karena itu bisa disebut melawan hukum.
Ormas Islam yang melakukan serangan itu tak mau kalah. Mereka membalas statement itu dan menuduh mahasiswa IAIN sudah kebabalasan, sesat, liberal dan mulai disusupi oleh paham komunis.
Lalu merekapun menggelar jumpa pers. Semua wartawan diundang. Setelah wartawan kumpul Ketua Ormas membacakan statement. Mulai dari kronologi hingga pada tuntutannya kepada Mahasiswa dan penegak hukum. Statement itu dibacakan dengan begitu bersemangat. Seperti orasi di mimbar bebas.
“Oleh karena itu kami menuntut pelaku pelecehan di adili. Karena telah melakukan tindakan tercela yang menodai kesucian ibadah ummat Islam. Isi adalah Penistaan terhadap Ayat Alfatehah”.
Setelah itu sang pembaca statement berteriak lantang,...”HIDUP ISLAM” lalu dijawab oleh hadiri dengan “HIDUUUP!” sambil mengangkat tangan.
“HIDUP ALFATEHAH”, hadirinpun menjawab lagi tak kalah semangat, “HIDUUUP!”...
Lalu tiba-tiba dari sebelah kanan ada seorang anak muda berkopiah berteriak tak kontekstual, “HIDUP AMIN”. Lalu seluruh Hadirin dan Sang Pembaca Statement reflek mengangkat tangannya dengan cepat lalu menjawab “HIDUUUP!”
Yang terakhir ini tampak jauh lebih bersemangat.
Suasana hening sejenak. Tak lama beberapa orang hadirin di bagian depan nampak senyum-senyum sambil menahan tawanya. Sedangkan wartawan saling melirik satu dengan yang lain.
_____
Bungben, Pontianak, 14/14/16

MENEBAK PELAKU PELEMPARAN BOM MOLOTOV


Mengerikan aksi pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda itu ya. Ada 5 orang korbannya. Sebagian besar adalah anak-anak. Yang paling menyedihkan adalah salah satu dari lima korban itu meninggal dunia. Umurnya baru 2,5 tahun. Ya Allah teganya. Pelakunya tak hanya sadis tapi pasti orang gila.
Bersyukur, akhirnya pelaku pelemparan tertangkap tangan. Walau agak jauh dari TKP. Menurut Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar pelaku pelemparan bom itu adalah mantan napi bom Puspitek Serpong.
Pelaku pelemparan bom molotov itu berhasil ditangkap aparat bersama warga paska menyelesaikan aksinya. Lalu fotonya bertebaran di medsos.
Kalau melihat foto yang beredar di medsos pelaku pelemparan yang berinisial J itu memang 'seperti' orang Indonesia. Kecil, berambut dan berkulit hitam. Khas seperti orang Indonesia.
Tapi saya tidak percaya.
Menurut saya kalau "J" itu adalah orang Indonesia maka J tak akan memakai bom molotov dalam melaksanakan aksinya. Bukankah lempar bom molotov tak pernah dikenal dalam tradisi asli orang Indonesia?
Ada sih tradisi lempar-lemparan yang masih bertahan hingga sekarang. Tapi benda yang dilempar adalah benda-benda yang tidak berbahaya, obyeknya juga bukan manusia. Melempar buah mangga milik tetangga misalnya. Tradisi ini memang khas milik orang Indonesia.
Kedua, perlu kita pahami bom molotov itu juga bukan hasil karya peradaban nusantara. Tapi berasal dari Finlandia yang digunakan oleh pejuang Finlandia pada perang musim dingin menghadapi invasi Unisoviet tahun 1939. Nama molotov sendiri berasal dari nama menteri luar negeri Uni Soviet, Vyacheslav Molotov, yang bertugas pada masa pemerintahan Joseph Stalin.
Jadi dari tradisi, negara asal pembuatan, hingga nama barang, lempar bom molotov itu jelas-jelas berasal dari luar negeri.
Berdasarkan analisis itu, hihii kayak skripsi, maka saya dapat menyimpulkan pelaku pelemparan Bom molotov di Samarinda yang berinisial J itu bukan orang Indonesia.
Memang ada karya manusia nusantara yang bisa meledak. Namanya meriam karbit. Dan produsen meriam karbit terbesar itu ada di Kota Pontianak. Tapi meriam yang bisa meledak dengan suara yang menggelegar itu tidak dilempar. Melainkan disulut dengan api. Ini jauh berbeda dengan sistem kerja bom molotov. Dengan demikian sudah jelas juga bahwa pelakunya juga bukan orang Pontianak.
Memang betul, selain mampu membuat meriam.karbit, orang Pontianak juga banyak yang piawai membuat bom. Tapi bomnya tidak bisa meledak. Karena bom itu dibuat dari semacam senyawa yang non explosive. Masyarakat setempat menyebut senyawa itu kode senyawa U-81. Orang Indonesia membacanya lafal "ubi". Senyawa ini tak bisa meledak. Kalaupun meledak dia harus dioplos dengan senyawa lain yang dikenal dengan kode kimia 54M-83L. Orang pontianak melafalkannya " sambel". Tapi sifat ledaknya very low explosive dan terjadi pada area sekitar bagian bibir dan lidah saja.
Oleh karena itu sekali lagi saya yakin tak mungkin pelaku pelemparan bom molotov di Samarinda itu adalah orang Indonesia apalagi orang Pontianak.
Terlebih orang indonesia itu sangat piawai dalam tehnik melempar. Tak heran ada pepatah yang telah berumur berabad-abad lamanya di Indonesia. Bunyi pepatah itu lempar batu sembunyi tangan. Dengan pepatah ini orang Indonesia pasti tak bakalan ketahuan sebagai pelaku pelemparan. Karena kita itu punya keahlian menyembunyikan tangan setelah melempar.
Nah, yang di Samarinda itu lempar bom malah tertangkap tangan. Berarti sudah pasti orang itu bukan orang Indonesia. Kalau ada yang bilang orang Indonesia, saya merasa tersinggung, karena bangsa kita itu sangat ahli dalam melempar dan menyembunyikan tangan. Maka pelaku pelemparan tak mungkin ketahuan apalagi tertangkap tangan.
Jadi dari mana asal pelakunya?
----------
Bungben, pontianak 14/11.2016

Perbedaan Aksi Dakwah dan Aksi Politik


Menyenangkan sekali melihat jutaan orang melakukan aksi Damai 411 di Jakarta. Walaupun demikian berbagai pendapat pro dan kontra tak kunjung selesai diperdebatkan.
Ada yang bilang itu aksi politik dengan alasan issue yang diangkat bertujuan untuk menjatuhkan nama atau keompok politis tertentu. Ada juga yang mengatakan bahwa aksi itu adalah aksi dakwah karena issue yang diperjuangkan adalah Al Quraan.
Karena bingung dengan aneka pendapat yang berseliweran itu, lalu seorang santripun bertanya dengan kyainya. "Pak Yayi, saya bingung dengan pendapat orang-orang di pesbuk. Ada yang bilang demo 411 di Jakartai itu aksi politik tapi ada yang juga yang bilang itu aksi dakwah. Mohon maaf Pak Yayi, mohon penjelasan perbedaan antara aksi politik dengan aksi dakwah. saya jadi bingung mau pilih yang mana", tanya Sang Santri.
Kyai sang santri mengangguk-aguk. Lalu menjawab dengan bijak.
"Begini, bang. Kalau aksi politik itu bertujuan menjatuhkan, kalau aksi dakwah itu tujuannya menasihati. Nah sekarang tinggal dicari tau saja apa tujuan utama dari aksi itu", jawab Pak Yayi singkat.
Sang santri tampak puas dengan jawaban sang Kyai. Namun, setelah itu, selama 2 hari santri itu tak pernah muncul lagi di pengajian Sang Kyai. Sang Kyai bertanya pada majelis apakah ada yang melihat santri yang ia maksud. Salah seorang jamaah memberitahu bahwa ia melihat santri yang dimaksud sedang berada di kebun. Ia dipergoki salah seorang jamaah, duduk seorang diri di bawah pohon nangka.
Sang Kyai penasaran. Lalu mendatangi santri itu di kebun. Ternyata benar. Santri yang dimaksud sedang adai di Kebun. Ia tampak berdiri sambil mengelus-ngelus pohon nangka.
"Bang, ngapain kamu di situ? Kata kawan-kawan sudah dua hari kamu berdiri sendiri di bawah pohon itu?", tanya sang Kyai.
Sang santri terkejut melihat Kyainya datang dengan tiba-tiba sambil mengajukan pertanyaan. Sambil terbata-bata Sang Santri menjawab.
"Mohon maaf Pak Yayi. Dua hari yang lalu saya mencium ada nangka masak di pohon ini. Saya ingin mengambilnya untuk Pak Yayi"
"Lho, kenapa tidak kamu jatuhkan saja dari pohon itu?", tanya Sang Kyai.
"Saya ingin berdakwah Pak Yayi. Maka saya nasehati buah nangkanya supaya segera menjatuhkan diri", ujarnya pelan
"Lho, kenapa tidak kamu panjatkan saja pohonnya lalu dijatuhkan dari atas?", tanya Sang Kyai heran.
"Mohon maaf Pak yayi, saya dak mau pake aksi politik. Saya memilih aksi dakwah saja Pak Yayi!", jawab Santri perlahan.
"Astagaaaa, kalau masalah gayak gini pake aksi politik aja!!!", ujar Sang Kayai sambil menendang pohon nangka itu.
Tak lama bub! Sebuah Nangka besar matang jatuh dari pohon. Lalu aroma harum pun berhamburan.
"Sudah! Bawa tuu politik", hardik Sang Kyai dongkol.
__________________
Hihihiii
-----------------------------
Bungben, Pontianak, 14/11/16

ORANG JAWA LEBIH JAGO BERPOLITIK

Iseng-iseng otak-atik angka durasi umur negeri-negeri di Pulau Jawa. Kesimpulannya orang Jawa itu lebih jago berpolitik daripada orang ...