Pagi tadi saat mengisi materi bagi siswa SMK yang akan magang di swadesiprinting, secara spontan saya menyampaikan bahwa guru terbaik untuk desain komunikasi visual bukanlah dari designer. Tapi belajarlah dari sumber ilmu yaitu Sang Maha Designer, yaitu Allah SWT. Saya mengatakan bahwa konsep dasar ilmu desain komunikasi visual tak pernah berubah sejak jaman dahulu. Demikian pula dengan Sang Designernya. Masalahnya sekarang bagaimana cara kita agar dapat mengakses pengetahuan langsung pada sumbernya.
Tak mudah. Tapi tadi sewaktu menyampaikan materi saya menemukan jawabannya...ada waktu nanti akan saya tuliskan secara sistematik.
catatan Bungben tentang sosial, politik, manajemen, marketing praktis, marketing amal shaleh, dan strategi bisnis
Kamis, 09 Januari 2014
Belajar Desain Tanpa Buku
10 TRADISI BURUK KITA DALAM MENDIDIK ANAK
Selasa, 07 Januari 2014
Jalan Damai
Baik-buruk, benar-salah adalah seperti siang dan malam. Dua hal yang berbeda tapi tak saling bertentangan. Dua hal yang tak sama tapi selalu seiring sejalan.
Mempertentangkan keberadaan baik atau buruk, benar atau salah hanya akan membuat kita terperosok ke dalam lubang kegelisahan.
Mencampurkan keduanya akan membuat kekacauan. Dan menghentikan keduanya akan berbuah kehancuran.
Siang adalah siang, ia terang benderang memberikan kehidupan sekaligus kematian. Malam adalah malam, ia gelap bernuansa kematian sekaligus memompakan nafas kehidupan.
Kedamaian adalah menerima keberadaan dua hal yang berbeda dengan apa adanya, bukan mempertentangkan keduanya.
Namun hidup harus memilih peran dan posisi, peran baik atau peran buruk, dalam posisi benar atau salah. Oleh karenya diperlukan kesadaran. Oleh karenanya diperlukan pengetahuan. Dengan keduanya kita bisa menimbang kemanfaatan bagi kehidupan.
Kehidupan, bersama yang baik dan yang buruk. Bersama yang benar dan yang salah. Dalam sebuah jalan damai...
Teknik Menulis Imajinatif II
Nah, jika Anda telah selesai menyampaikan apa yang telah Anda bayangkan dan rasakan, baca ulang tulisan Anda. Lihat kata-katanya, apakah sudah benar. Jika kurang benar ganti dengan kata yang lebih baik. Lihat pula susunan kalimatnya, rasakan apakah enak saat diucapkan secara verbal.Jika tak enak, perbaiki. Lihat pula pesan inti yang telah disampaikan, jika antar kalimat tak nyambung disambung aja. Kalau tak mengerti bagamana menyambungnya,dijadikan paragraf baru saja. Kalau tak enggan menulis paragraf baru, mending dihapus aja.
Kalau sudah selesai, berilah judul. Buatlah judul yang singkat dan menarik dengan jumlah kata yang tak terlalu banyak. Antara 1 - 4 kata. Setelah tulisan itu berjudul, baca lagi tulisan Anda. Sekarang dibaca dari judul hingga selesai. Kalau terasa judul dan isi cerita kurang klop, jangan ganti isinya, tapi ganti aja judulnya.
Nah, itu tekhnik menulis imajinatif dengan cara membayangkan seauatu. Ada pula tekhnik menulis dengan membayangkan seakan-akan kita menjadi sesuatu. Bisa jadi binatang, bisa jadi pejabat, bisa jadi seorang akademisi, bisa jadi seorang olahragawan, pengamat dsb. Bagaimana caranya?
Sebelum Anda mulai menulis, sugestikanlah diri Anda dengan seseorang.
Jika Anda ingin menulis tentang tips desain grafis jadilah seorang pengamat desain grafis dan obyek yang diamati adalah diri Anda sendiri. Bayangkan seakan-akan Anda sedang melihat 'anda' yang sedang mendesain, lalu komentarilah dengan pengetahuan yang Anda miliki. Tulislah yang Anda ketahui saja.Jangan menulis yang tidak Anda ketahui. Dan jangan pernah sambil menulis sambil mencari referensi. Jika Anda memerlukan referensi, baca dululah referensi-referensi itu. Setelah Anda pahami, barulah menulis.
Contoh lain, jika Anda ingin menuliskan gagasan tentang pengentasan kemacetan, bayangkanlah diri Anda menjadi seorang pejabat, sampaikan pengetahuan Anda. Saat Anda menuliskan gagasan Anda, hadirkan diri Anda pada obyek yang akan ditulis atau dikomentari. Bangunlah bayangan itu dengan detail. Temukan masalah, lalu pikirkan solusinya. Jika sudah dapat sampaikan solusinya dengan kata-kata Anda. Tak usah takut solusi Anda tidak bagus karena tak dilengkapi dengan literatur dan referensi. Teruslah menulis. Tak perlu takut nantinya orang akan mengkritik hasil tulisan Anda. Hajar saja!
Nah, setelah tak ada bahan lagi untuk dituliskan, berhentilah menulis. Kembalikan kesadaran diri Anda seperti semula. Lalu sekaeang jadilah seorang pembaca yang baik. Baca ulang tulisan Anda, perbaiki jika ada yang salah, beri tanda baca jika diperlukan. Setelah selesai beri judul, baca sekali lagi mulai dari judul yang Anda berikan itu. Dan perbaiki kata-kata atau kalimat yang tak sesuai dengan judul itu.
Nah begitulah cara saya membuat konsep, membuat proposal, mendesain rencana kerja, dsb. Entah sudah berapa jumlahnya, mungkin sekitar 200 hingga 300an tulisan berbentuk konsep, rencana kerja, proposal, cerpen, opini, buku yang tak jadi diterbitkan, dsb. Kemungkinan besar makah lebih.
Sayangnya saya kesulitan mendokumentasikannya sehingga tersebar entah kemana, sebagian besar hilang bersama laptop pertama saya, sebagian tersimpan dikomputer teman, lalu komputer itu dijual ke orang lain, ada yang di blog, di facebook atau tersimpan di memory card Hp. Ada juga yang hilang bersama raibnya sebuah hardisk ekaternal. Hehee...pikir-pikir sayang juga. Tak papalah yang penting bisa terus menulis dan menulis. Harus tetap semangat.
Bukankah kita tetap saja bersemangat untuk berbicara walau suara kita pasti hilang begitu kita berbicara baru saja selesai berbicara? Begitu juga berbicara lewat tulisan. Hihiii...
Senin, 06 Januari 2014
Merasa Habis
Kadang kita merasa telah bekerja keras dan telah menyumbangkan segalanya untuk lingkungan kita. Kita merasa telah begitu lama berpikir dan bekerja. Bahkan telah merasa habis-habisan berjuang untuk kemajuan lingkungan.
Saat perasaan itu muncul, saatnya melakukan refleksi diri. Bertanyalah pada diri kita benarkah kita telah demikian banyak berjuang sehingga terasa tenaga dan fikiran kita telah habis terkuras? Atau karena kedangkalan pengetahuan kita saja sehingga merasa apa yang telah diberikan terkuras, padahal tak seberapa banyak pengetahuan yang telah kita berikan itu. Atau karena ketidaklancaran aliran rasa ikhlas saja sehingga energi dan semangat yang keluar, mengalir secara tidak lancar dan tersendat sehingga membuat kita merasa lebih cepat lelah?
Yang tahu jawabannya hanyalah kita sendiri. Namun, ada tips sederhana untuk mengukurnya. Lihatlah sejauh mana masalah yang terpecahkan di sekitar kita, lalu lihat apakah kita punya pengetahuan untuk memecahkan masalah tersebut. Jika pengetahuan yang kita miliki tidak relevan dengan masalah yang telah terpecahkan, maka itu berarti bukan kitalah yang merubah atau memperbaiki lingkungan itu. Namun, kita merasa pengetahuan kita telah memberi terlalu banyak untuk lingkungan kita karena pengetahuan yang sedikit itu telah terkuras. Kita merasa telah memberikan semua, kita merasa telah habis-habisan.
Tips lain untuk melakukan otokritik adalah memeriksa apakah selama ini kita mampu mengalirkan semangat secara konsisten kepada orang-orang yang bahkan kita tak berkepentingan secara material kepada mereka? Jika tidak, wajar jika kita merasa cepat lelah. Karena energi kita tidak mengalir secara apa adanya. Hal ini akan menyumbat saluran kebahagiaan kita. Padahal kebahagiaan adalah obat lelah paling mujarab di muka bumi.
Dan jika kita tak mau memperbaiki diri dengan cara menambah pengetahuan dan berupaya hidup lebih bersyukur dan lebih ikhlas, maka waspadalah karena hidup kita akan semakin rentan dengan ancaman frustasi bahkan depresi. Lalu kita akan mulai menyalahkan dan membenci lingkungan. lalu kitapun akan terasing dari lingkungan kita sendiri. Lalu, kitapun akan merasa asing dengan diri kita sendiri.
Nah, Lo!?
Teknik Menulis Imajinatif I
Jika ingin hidup Anda panjang umur, banyak-banyaklah tersenyum. Tapi jika ingin hidup Anda abadi, maka banyak-banyaklah menulis.
Heheee, itu bukan quote saya, tapi qoute seseorang yang saya tak ingat namanya, lalu saya tulis ulang sesuai dengan pemahaman saya. Mungkin tak sama persis. Tapi gak masalahkan? Yang penting maknanya sama.
Dan memang hanya dengan menulislah nama kita akan dapat dikenang orang sepanjang masa. Tak peduli apakah tulisan itu baik atau buruk.
Namun, banyak orang yang tak bisa menulis. Mungkin mau menulis, tapi tak bisa. Ada juga yang merasa tak layak menulis karena beranggapan bahwa menulis itu kerjaan orang-orang pintar yang sudah mengecap pendidikan formal yang tinggi. Orang-orang biasa seperti kita tak akan becus dalam menulis dan kalaupun dipaksakan untuk menulis, pastilah tulisan itu jelek, buruk dan tak berkualitas. Anggapan itu jelas-jelas salah besar. Karena menulis itu esensinya sama dengan berkomunikasi sebagaimana kita berkomunikasi lewat ucapan. Bedanya, menulis itu berkomunikasi lewat huruf yang tersusun menjadi kata dan kalimat. Sehingga semua orang punya potensi yang sama untuk bisa menulis sebagaimana potensi setiap orang dalam berbicara.
Akan tetapi berkomunikasi lewat tulisan akan lebih abadi dibandingkan berkomunikasi lewat ucapan. Kalau lewat ucapan hanya orang yang mendengar secara langsung saja yang akan menangkap pesan kita. Sedangkan jika kita berkomunikasi lewat tulisan, maka akan lebih banyak orang dalam waktu dan ruang yang lebih luas yang akan menangkap pesan yang kita sampaikan. Kata-kata itu akan bertahan dan tersebar sepanjang umur dan sebanyak media yang digunakan untuk menulis. Selembar kertas, misalnya akan bertahan kurang lebih 50 tahun. Jika hanya dibuat satu lembar dan tak berpindah maka satu orang saja yang akan membacanya, sekali atau berkali-kali dalam 50 tahun. Kalau dibuat 10 lembar maka 10 orang juga yang akan membaca selama 50 tahun. Lalu bagaimana jika 100,1000, atau sejuta lembar? Bagaimana jika setengah diantaranya disimpan dan atau disalin kembali lalu diperbanyak. Dan bagaimana apabila tulisan itu disimpan di media yang tak berpengaruh dengan cuaca seperti melalui media blog? Dimana setiap orang darimanapun dan kapanpun akan dapat mengaksesnya? Tentu tulisan kita akan bertahan jauh lebih lama lagi.
Mungkin cicit dari cicitnya kita masih bisa membacanya. Bahkan mungkin cicit dari temanya cicit kita akan dapat menangkap pesan lewat tulisan kita. Inilah yang membuat hidup kita abadi.
Tapi bagaimana caranya? Banyak cara agar kita bisa menulis. Cara menulis tersebut dapat kita pelajari dari berbagai buku yang dijual di toko buku, atau berbagai artikel yang tersaji di dunia maya. Namun, seringkali setelah membaca banyak buku dan banyak artikel kita tak kunjung punya kemampuan menulis.
Nah, walaupun saya bukanlah penulis yang produktif namun tak salahkan jika saya ingin berbagi tips menulis?
Tak taulah apakah metode atau tips yang ingin saya sampaikan ini pernah dibahas oleh orang lain. Kalau sudah, mudah-mudahan tips ini akan semakin memperkaya bahasan itu.
Oke saya sebut saja metode menulis yang ingin saya sampaikan ini dengan istilah menulis imajinatif.
Menulis imajinatif adalah metode menulis dengan cara membayangkan sesuatu atau seakan-akan menjadi sesuatu. Lalu ketika bayangan itu eksis maka mulailah untuk menyampaikannya secara teratur lewat kata-kata.
Bingung ya? Saya juga, hehee..
Jadi maksudnya begini, kita akan mulai dengan hal yang sepele. Sekarang katakanlah kita ingin menulis tentang kondisi rumah kita. Lalu kita ingin menyampaikan kondisi rumah kita tersebut kepada rekan kita dengan jelas dan detail. Maka, yang pertama harus kita lakukan adalah membayangkan rumah kita sejelas-jelasnya lalu mulailah menyampaikan kondisi rumah kita itu dari depan lalu secara berurutan hingga ke belakang. Agar apa yang disampaikan jelas maka janganlah sampaikan kondisi rumah kita itu secara melompat-lompat, tapi sampaikanlah secara berurutan.
Tekhnisnya seperti ini...bayangkan pagar anda, jelaskan dengan kata-kata. Bayangkan halaman rumah Anda jelaskan dengan kata-kata, bayangkan teras rumah Anda, jelaskan. Bayangkan pilar, pintu, gagang pintu, jendela. Jelaskan! Bayangkan ruang tamu Anda jelaskan....begitu seterusnya beruurutan hingga ke belakang. Sistematik kata orang kampus.
Saat Anda menjelaskan kondisi bangunan rumah itu, jangan hiraukan kata-kata yang telah Anda tuliskan. Tak usah pedulikan apakah kata-kata itu sudah tertata dengan baik atau belum. Jangan hiraukan apakah kata-kata itu telah memenuhi standar bahasa Indonesia atau masih bercampur dengan bahasa daerah. Teruslah menulis dan menulis apa yang terbayang dalam bayangan Anda. Yang penting tetaplah konsentrasi untuk membentuk bayangan itu dan jangan berhenti untuk menjelaskan kondisi yang kita bayangkan tersebut dengan kata-kata yang tertulis.
Makin detail bayangan itu makin baik, dan tentu saja makin banyak kata-kata yang dapat Anda tuliskan. Saat Anda membayangkan bagian-bagian rumah Anda, sisipkan perasaan Anda terhadap bagian itu. Perasaan apa saja, terserah. Setelah habis karena tak ada satupun sesuatu yang dapat dibayangkan lagi, maka itu pertanda bahan tulisan Anda telah habis. Dan itu berarti telah selesailah tulisan itu. Nah, sekarang Anda telah menjadi penulis. Mudah bukan?
Motivasi Mandiri II: Membangun Mesin Motivasi
Para pelaku sejarah dan orang-orang hebat memiliki semangat dan motivasi yang cenderung stabil. Mereka memiliki mesin pembangkit motivasi.
Mesin pembangkit itu beraneka ragam diantaranya perintah suci, ideologi, rasa cinta dan rasa benci. Mesin-mesin itu bisa bekerja untuk menggerakan diri kita secara sendiri atau bekerjasama. Perintah suci untuk berjihad di jalan Allah, misalnya sudah sanggup menggerakan remaja berusia belasan menenteng AK-47 lalu pergi ke medan tempur. Ideologi sosialis, misalnya mampu membuat seorang Tan Malaka menulis buku yang sangat hebat walau harus hidup berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Demikian pula dengan rasa benci dan rasa cinta, rasa benci terhadap kolonialisme telah menggerakan jutaan orang didunia untuk berjuang membebaskan negeri mereka dari cengkeraman penjajah. Rasa cinta pada istri telah menghasilkan masjid Tajmahal yang indah.
Jika masing-masing unsur mampu menggerakan manusia dalam pergerakan yang hebat, tentu kehebatannya akan semakin bertambah ketika berbagai unsur mesin motivasi tersebut bekerja sama. Betapa hebatnya motivasi para pejuang kemerdekaan yang punya semangat jihad + rasa benci terhadap kolonialisme-kapitalisme + rasa cinta terhadap tanah air?
Namun mesin pembangkit itu bukanlah pemberian yang telah jadi. Mesin-mesin itu perlu dirakit dan perlu dijaga dan dirawat. Cara merakitnya adalah dengan proses pembelajaran, penyaksian dan pengalaman. Pembelajaran, penyaksian dan pengalaman akan membentuk sebuah keyakinan dimana keyakinan itulah yang akan menjadi mesin-mesin itu, yaitu keyakinan terhadap perintah suci, keyakinan terhadap ideologi, keyakinan terhadap alasan mencintai atau membeci. Hal itu berarti sehebat apapun pengetahuan Anda tentang sebuah ideologi tapi tanpa pengkristalan keyakinan, maka pengetahuan itu tak akan mampu berubah menjadi mesin motivasi yang hebat.
Saat keyakinan telah muncul, maka mesin motivasi telah bekerja. Dan saat mesin itu mulai bekerja, maka meain tersebut harus dirawat dengan baik.
Bagaimana cara merawatnya? Ikuti postingan selanjutnya.
ORANG JAWA LEBIH JAGO BERPOLITIK
Iseng-iseng otak-atik angka durasi umur negeri-negeri di Pulau Jawa. Kesimpulannya orang Jawa itu lebih jago berpolitik daripada orang ...
-
Saya mengenal Pak Asui saat mengalami sakit migrain yang parah sekitar 9 tahun yang lalu. Saat itu entah berapa belas kali saya ke dokter...
-
Bagian II dari 4 tulisan Karena aktivitas internal kemahasiswaan sudah dilaksanakan oleh BEM maka otomatis Senat Mahasiswa KBM-UJB ta...
-
Bagian I dari 4 Tulisan Saya masuk di Fakultas Ekonomi Universitas Janabadra pada tahun 1993. Tak ada pertimbangan khusus untuk mem...
